Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Wednesday, July 11, 2012

(Lomba Senyumku Untuk Berbagi) Senyum Mau-mau tapi Takut

Senang sekali ketika pertama membaca postingan kaklist tentang lomba senyum berbaginya. Bukan saja karena hadiahnya yang terdengar menggiurkan, tapi lebih karena aku merasa punya ‘wadah’ berbagi senyum kami yang satu ini.

Foto ini adalah salah satu momen dari ratusan momen yang kami  abadikan saat berangkat umrah tanggal  4 - 14 Juni 2012 lalu. Ini adalah foto ku bersama ibuku saat di Jabal Tsur. Jabal Tsur adalah tempat bersejarah dimana terdapat Gua Hira dan Gua Tsur disana. Sebagai tempat wisata disana terdapat banyak pedagang, mulai dari pedagang pashmina sampai penjual jasa menunggang unta. Untuk menunggang unta para penjual jasa ini memasang tarif 10 – 100 reyal. Aku dan ibuku tak tertarik sama sekali untuk naik unta meskipun suamiku berulangkali membujuk kami berfoto di punggung unta. Aku dan ibu berdalih bahwa kami bisa naik unta di kebun binatang Bandung, biayanya lebih murah, dan untanya lebih kecil ukurannya, lebih bersahabat. Sebenarnya kami sedang menutupi rasa takut kami, takut di seruduk unta, bahkan sejujurnya aku takut digigit gigi unta yang besar-besar itu he..he…

Suamiku yang sudah  membaca pikiranku sejak awal menginjakkan kaki di Jabal Tsur, tak bisa memaksaku naik unta. Ia tahu aku punya sejarah trauma setelah melihat temanku perutnya digigit kuda, dulu saat aku masih di bangku SMP. Trauma itu yang mengantarku pada pikiran ‘digigit unta’. Irrasional bahkan terdengar lucu bagi yang mendengarnya ya :P

Pagi itu terasa terik sekali, selain karena memang sedang  summer disana, juga karena Jabal Tsur 

merupakan bukit batu tertinggi di Mekkah yang dikelilingi padang pasir tanpa pepohonan. Wajar saja jika di beberapa foto kami sering terlihat menyeringai, menahan silau dan panas. Namun untuk foto yang satu ini, sejatinya itu adalah senyum mau-mau tapi takut. Kami ingin sekali berfoto dengan unta cantik ala padang pasirnya Mekkah, namun rasa takut diseruduk dan digigit pun tak kalah besar. Maka alhasil senyum mau-mau tapi takut inilah yang hadir. Sambil berpegangan tangan erat menahan ngeri, kami berdua pasrah berpose bersama sang unta.Sejujurnya setiap selesai difoto 

kami langsung lari tunggang langgang,menjauh dari sang unta yang tak bersalah hehe…

Tersenyum ternyata bukan saja sunnah Rasulullah ya, para pakar psikologi meneliti bahwa tersenyum memberi banyak manfaat bukan saja bagi pelakunya, tapi juga bagi yang melihatnya. Senyum selain memberi aura positif, senyum juga meningkatkan system imun tubuh kita, dan dapat melerai rasa di hati kita. Salah satunya adalah rasa takut. Meski takut kupaksa untuk tersenyum, dan ternyata itu sangat membantuku menghilangkan ketakutan dan trauma itu sedikit demi sedikit. Pasca berfoto dengan ibuku ini Alhamdulillah aku berani berfoto berdua unta, meskipun belum berani naik untanya. 

Maka tetap tersenyum yuuuk meski rasa hati sedang nano-nano, manis, asem, asin…


*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba 'senyumku untuk berbagi' nya KAKLIST  http://kaklist.multiply.com/journal/item/101/Lomba-senyumku-untuk-berbagi  .

 

  

Friday, July 6, 2012

Catatan hati sang santri part #2

Ini lanjutan dari  catatan hati sang santri part#1. Fathiyya mengetiknya untuk kakak Fathan. Terima kasih yayu sayaang...terimakasih juga untuk pembaca setia yang mengapresiasi tulisan my sun and ketikan my girl hehe... Semoga episode kali ini ga bikin pembacanya berderai-derai lagi ya, cukuplah umminya yang bercucuran airmata he..he..

JUM’AT,1 JUNI 2012
Keesokan harinya ku mendapatkan teman baru yang lucu sekali namanya Raditya panggilanya adyt, ia sering membuat lelucon kpd teman-temannya bahkan ustad-ustadku pun sering di guroi. Setelah datangnya adyt aku sudah tak bersedih lagi bahkan setelah menangis aku langsung tertawa terbahak-bahak saking lucunya. Ustad-ustad  satu kamarpun langsung tertawa terbahak-bahak. Disore hari nya kami bermain bola bersama-
sama ternyata adyt mahir bermain sepak bola.                                                            

SABTU,2 JUNI 2012
Dihari Sabtu kami bersiap-siap untuk bersekolah bersama kelas kami F7,sesampainyadi sekolah adyt tetap melawak, yang biasanya kelas ku sunyi senyap setelah ada adyt kelas menjadi ramai sekali.

MINGGU,3 JUNI 2012
Keesokan harinya aku sudah siap-siap untuk main  bola. Saat aku bermain datanglah pak robert & oki dia adalah guruku saat di Sias dan temanku oki. Awalnya seperti biasa aku seneng dapat teman baru tapi setelah tahu kabar orang tuaku fdari Pak Robert Aku sedih karena orang tuaku akan pergi umrah. Jadi ini adalah terakhir kalinya aku menelpon orangtuaku.Saat aku menelponpun aku sambil menangis  mendengar suara umi & abi, menyampaikan selamat tinggal.Aku tidak tahu lagi harus apa karena aku tidak bisa lagi berkomunikasi dengan umi & abi dalam 2 minggu ini.

SENIN,4 JUNI 2012
Keesokan hari nya , di pagi hari Pak Robert datang & menghampiriku  “Fathan!!! Ini abi & umi nelpon katanya mereka sudah sampai di bandara  Soekarno-hatta Jakarta untuk pergi umroh ." Setelah begitu aku pun makin  bersedih  tapi lama kelamaan aku senang karena orangtuaku  juga senang karena setelah berminggu-minggu  dibatalkan akhirnya orangtuaku berangkat umroh  juga , dan tanpa  terasa sudah seminggu  aku mondok disini rasanya baru sehari ku disini , tapi rasanya

 aku ingin pulang karena kangen orang tua.

(Fathan menggambar ka,bah dan pedang dengan tulisan SABAR di bagian atas
 
kertas diarynya dan menggambar
pesawat yang terarah ke sebuah bendera bertuliskan JEDDAH dibagian bawah kertas diarynya, dan sebuah tulisan Arab lafadz ALLAHU AKBAR dibagian teratas kertas)

TO BE CONTINUED


Wednesday, June 13, 2012

Lovely Summer in Mecca and madina




Tahun lalu kami masih bermimpi ingin ke Baitullah dan tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa tahun ini kami mendapat undangan itu, Subhanallah... Sungguh mudah bagi Allah untuk mengundang siapapun yang dikehendakiNya.

Banyak cerita penuh makna yang ingin ku sampaikan namun mood untuk menulis masih jauh terpendam, terhalau oleh gemerlap indahnya segenap rasa yang terbawa dari tanah harom...maka kisah di masjid nabawi, kisah di jabal uhud, kisah di depan ka'bah hingga di laut merah harus dipending dulu ya hingga reda semua rasa yang masih simpang siur dalam dada.

Perjalanan umroh ini dari tgl 4juni - 12 Juni 2012, saat itu negara arab sdg memasuki musim panas. suhu disana bisa mencapa 55 derajat celcius. alhamdulillah bis, hotel, masjid nabawi maupun masjidil harom full AC ssehingga panas hanya terasa diluar saja.

Karena sedang summer maka siang harinya lebih panjang, maghrib jam 07.05 dan Isya jam 08.35 sedangkan Shubuhnya lebih awal jam03.55. Maka kami hanya punya waktu tidur sekitar 3 jam sehari dimalam hari karena jam 02.00 sdh harus bangun lagi untuk mendapat shaf di dalam saat sholat shubuh. Namun begitu alhamfdulillah nikmat tiada tara.

Ini sebagian fotonya dulu diupload ya sebagai pengamanan kalau-kalau folder fotonya hilang lagi, maka MP adalah tempat teraman utk penyimpanan dokumentasi ya he..he..

Insya Allah perlahan-lahan akan mengalir satu persatu kisahnya ya, terutama untuk my kids, Fathan, fathiyya and falisya, Ummi janji akan berbagi semua cerita untuk bekal kalian kelak bersiap diundang ke rumah Allah.

Friday, June 1, 2012

Suasana di kota santri....




Alhamdulillah my sun, kaka fathan akhirnya bertetap hati ingin nyantri di Gontor, bahkan dia ingin mulai pendidikan sejak selesai UN kemarin tidak mau menunggu hingga kelulusan SD, atupun menunggu ummi abinya pulang umroh...happy meski ada airmata haru :'D

Kaka Fathan doakan ummi abi ya...sebagaimana ummi dan abi tak henti menyebutmu dalam doa kami...
we love you so much n so proud of you...

Saturday, May 26, 2012

Pelatihan jurnalistik: 'Ngelmu en refreshing'




Ini salah satu oleh-oleh pelatihan jurnalistik utk pembina mading SMP sejawabarat tgl 20 Mei-23 mei yg lalu...seruuu banyak ilmu, rame banyak temen baru en nostalgia dengan temen lamaa...

cerita lengkapnya pending dulu ya ... atau tidak perlu diceritakan fotonya sudah bercerita lengkap ya :D

Wednesday, March 28, 2012

Nasib si Buku dan Seorang Ibu

Being mom is multi endless task and a lifetime contract,  isn’t it? Setelah menjadi ibu tiba-tiba waktu 24 jam sehari menjadi sangat kurang untuk menyelesaikan semua pekerjaan, apalagi jika sang ibu juga punya kerja sambilan di luar rumah.

Dulu saat aku masih muda (sekarang berasa tua,cieee… :) ‘me time’ paling membahagiakan adalah membaca buku atau novel sambil tengkurap di atas peraduan atau menulis cerpen. Dan seiring bergulirnya waktu, bertambah usia dan amanah maka semakin langkalah ‘me time’ yang bisa kunikmati dengan membaca novel atau menulis cerpen lagi. 

Bukan karena tidak ada waktu luang lagi, tapi karena keluangan itu beralih menjadi ‘leisure time’ bersama F4 ku. Ada tanggal merah abinya pasti ngajak jalan keluar, lihat umminya nganggur dirumah Fathan dan Fathiyya pasti minta ditemani main badminton, main sepeda, atau manjat pohon kersen depan
 rumah. Belum lagi aksi Falisya yang belum mau lepas lendotan kalau umminya dirumah. Kalaupun bisa curi-curi waktu baru buka satu halaman buku, maka Falisya sudah siap dengan buku bacaannya, menodong minta dibacakan. Maka semakin mahal dan langka lah waktu untuk sekedar membaca buku sambil tengkurap disudut peraduan, apatah lagi untuk menulis cerpen (ini mah lewaaaat … terakhir menulis cerpen di Koran PR 5thn lalu hiks…:’(

 Bahkan sejak kehamilan ketiga sampai baby Falisya sekarang usia 2,5th menulis untuk blog  ku pun sudah jarang, kalaupun ada yang naik tayang itu tentunya hasil perjuangan semedi bermalam-malam. Karena itu aku salut untuk para ibu yang eksis menulis dengan kesibukan mengasuh dan mendidik banyak anak. 

Meski aku harus berkejaran dengan waktu mengajar, mencuci, memasak dan mengasuh anak-anak, ternyata semangat membaca itu tetap menyala- nyala . Demi mengobarkan yang sedang menyala-nyala itu maka setiap  akhir bulan ku jadwalkan untuk hunting buku meskipun entah kapan buku-buku itu bisa disantap dan dinikmati. Walhasil belanjaan buku di tahun 2012 sudah mengantri menunggu dibaca si empunya. Bahkan ketika sedang rapi-rapi kamar ternyata masih ada buku yang rapi dengan plastik wrapping lengkap dengan struk nya hiks…

Duhai hati sabaaar…sabaaar menanti waktu emas itu datang lagi ...

 PS: Demi Masa. Sesungguhnya Manusia dalam kerugian. Kecuali Orang-orang yang beramal shaleh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. (QS : Al-Ashr 1-3)
So,Girls spend your leisure time by reading high quality BOOKS rather than FACEBOOK ;P

Sunday, March 11, 2012

Ini Galauku

Galau? Beberapa waktu ini kata itu sering sekali kutemui di status teman-teman FB, terutama status siswaku yang notabene teenagers. Dan aku baru tau rasanya galau itu, tak enak makan dan tak nyenyak tidur, bukan begitu? Dan tulisan ini bukan untuk berbagi galauku, ini sekedar sharing berharap galau ini terurai dengan berbagi cerita.

Tak terasa beberapa bulan lagi anak lelaki semata wayangku akan menghadapi Ujian Nasional tingkat SD. Rasanya baru kemarin kami daftarkan masuk SD, ternyata sekarang sudah hampir lulus lagi. Tahun ini begitu banyak perkembangan kemampuannya baik secara akademik, mental maupun spiritualnya. 

Fathan bukan lagi lelaki kecil imut-imut yang dulu sering kucium-cium. Sekarang anak lelakiku sudah akan genap 12 tahun pada September nanti, Fathan sudah akil baligh,  begitu menurut pengakuannya. O..oww umminya macam kena tilang kalau sembarangan peluk-peluk dan cium-cium dia seperti dulu, apalagi kalau aku pakai baju lengan pendek dan celana legging saja dirumah…
waaah macam ngebut menerobos lampu merah rasanya, FEEL GUILTY!

Bulan Juli nanti Fathan Insya Allah masuk SMP. Bukan system UN yang bikin aku galau, tapi justru system yang ada pada SMP Negeri saat ini. Sedikit banyak aku bergelut dalam system ini, mengingat aku mendapat amanah Negara untuk mengajar di SMP Negeri di Bandung. Banyak hal yang membuatku galau, mulai dari muatan pendidikan yang belum islami, pergaulan yang sangat rentan narkoba, free sex dan sejenisnya hingga beberapa aturan baku yang jauh dari nilai islami. 

Salah satunya adalah aturan berseragam celana pendek (3cm diatas lutut) bagi siswa putera. Maka 
jika anak lelakiku bersekolah di SMP negeri tentunya ia harus mengikuti aturan baku ini. Artinya ia harus rela membuka auratnya di usai akil baligh, dan dengan begitu orangtuanya pun harus siap menanggung dosa sepanjang itu berlaku.. Innalillahi…

Tak bisa kubayangkan puteraku yang sudah terbiasa bercelana panjang di SD harus kembali bercelana pendek di SMP. Maka kami harus coret SMP Negeri dari daftar pilihan tanpa mengurangi rasa hormat pada SMP Negeri baik yang RSBI, SSN ataupun bukan. Bukan hanya alasan seragam yang sifatnya teknis (tapi prinsipil buat kami) pertimbangan lainnya adalah bahwa jika sekolah di SMP Negeri maka kupastikan hafalan Qur’an dan hadits serta pembiasaan sholat dhuha nya akan lepas begitu saja mengingat tidak ada muatan hafidz Qur’an di SMP Negeri dan lemahnya kami sebagai orangtua dalam menjaga pembiasaan tersebut.

Maka saat anak lelakiku di awal kelas 6 dulu berniat ingin masuk Gontor, bahagianya rasa hati kami sebagai orangtua. Namun Bahagia itu jadi galau manakala tiba-tiba diawal semester dua ini ia bilang kalau NEM nya bagus mau masuk SMPN 2 atau SMPN 5 . Kami pikir SMP Negeri adalah pilihan 
yang bagus manakala orangtua mampu menjaga hafalan Qur’an serta akhlakul karimah putra-putrinya. Namun karena aku hafal benar bagaimana ‘fragile’ nya system pendidikan (bukan pengajaran looh) di sekolah negeri maka kami harus bisa mengalihkan mimpi putra kami. Maka mulailah di bulan Februari lalu kami berwisata ke Islamic boarding school yang ada di kuningan, Garut dan Bandung. Alhamdulillah wisata pesantren tersebut membuahkan hasil, kaka Fathan dengan mantap berujar “INSYA ALLAH aku mau pesantren”. Subhanallah, galauku berakhir sudah…

Namun bagaimana nasib putra bangsa yang lain???

Friday, October 14, 2011

siapa tiru siapa???

Ternyata lagu2 Sunda menjadi sumber inspirasi lagu2 barat:

☺ Pileuleuyan (Goodbye - Air Supply)
☺ Neng Geulis (Pretty Woman-RayRobinson & Beautiful Girl-Jose Mari Chan)
☺ Potret Manehna (Picture of You - Boyzone)

☺ Awewe tukang bangunan (Material Girl - Madonna)
☺ Cing Tulungan (Save Me - Queen)

☺ Linu (Unwell - Matchbox 21)
☺ Bajing Luncat (Jump - Van Halen)
☺ Kunaon indit (Why Go - Pearl Jam)

☺ Sakasur Kembang Ros (Bed of Roses - Bon Jovi)
☺ Mojang Priangan (Uptown Girl - West Life)

☺ Tikamari (Yesterday - The Beatles)
☺ Panon Hideung (Black Eyed Woman – Santana)
☺ Ulah Ceurik (Don’t Cry - GN'R).

☺ Nyi Entin (Valentine - Jim Brickman ft.Martina McBride)
☺ Teu Aya Deui (I Have Nothing - Whitney Houston)

☺ Patepang Deui (I See You Again - The Three Degrees)
☺ Neneng (Oh Girl - Paul Young)
☺ Kukupu (Butterfly - Mariah Carey)

☺ Budak Ceurik (When The Children Cry - White Lion)
☺ Diantosan Di Pengkolan (I've Been Waiting For You - Guys Next Door)
☺ Hampura (Hard To say I'm Sorry-Chicago)

Sunday, October 9, 2011

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

Rating:★★★
Category:Other

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjaku kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Monday, October 3, 2011

Lelang Mas # 4 Baju menyusui and Bags


Ukuran S
new no tag
Bahan stretch
Brand: Naughty

Alhamdulillah sudah memasuki bulan Oktober, semoga bulan ini tetap penuh berkah untuk teman-teman semua...

Sebagai informasi bulan ini pembangunan masjid Al Amanah SMPN 15 Bandung sudah banyak kemajuan, bagian atas sudah rampung 90 % bahkan sudah bisa digunakan sholat siswa meskipun masih rawan karena tangganya belum berpagar dan jendelanya pun belum berkaca. sedangkan masjid bagian bawah masih belum dilanjutkan pembangunannya karena keterbatasan dana, nah semoga lelang masjid kali ini bisa memberi kontribusi untuk pembangunan masjid impian kami... Yuuuk ah baca aturan maennya yuuuk:

1. Lelang dimulai Hari ini ditutup Kamis 06 Okt 2011 jam 16.00 WIB ( waktu Jam tangan ku= jam dinding sekolahku)
2. Start Bid 0 n kelipatan 5ribu saja
3. Barang yg di lelang ada yg 2nd (good condition) ada juga yg baru namun tanpa tag (blm terpakai)
4. Harga BID belum termasuk Ongkos Kirim, lokasi pengiriman dari Bandung via JNE only
5. Pemenang BID akan dikonfirmasi via PM
6. One Bidder Sah
7. Pembayaran diterima max hari Jum'at (07 Okt 2011), kecuali ada pemberitahuan sebelumnya, via Mandiri only.
9. BID dapat via FB, Twitter atau SMS ya mengingat ini lelang amal.

10. no HIT and RUN yah....

Let's start the BID temans....^^

Wednesday, September 28, 2011

Natural Healing Course, belajar thibun nabawi gratis yuuk...

Rating:★★★★★
Category:Other
Halaqoh Pekanan GRATIS
Natural Healing Course

Pekan Ke Materi Pembelajaran
1 Islam dan Pengobatan Nabi (Thibbun Nabawy)
2 Mengenal Terapi Bekam/ Hijamah
3 Antara Pengobatan Timur dan Barat
4 Mahir Mendiagnosa Lewat Tangan
5 Tiga Sumber Penyakit , dan Cara mengatasinya
6 Praktek Terapi Bekam
7 Herbal dan Keluarga Sehat
8 Manajemen Waktu untuk Kesehatan diri & Keluarga
9 AL Qur'an dan Kesehatan
10 PENCERNAAN (LAMBUNG dan USUS)
11 DARAH TINGGI
12 Kesehatan Anak dan BALITA
13 Mahir Mendiagnosa Lewat Mata (IRIDOLOGY)
14 Menangani Problem Kesehatan GINJAL
15 Chiropractic (Terapi Tulang Belakang)
16 DIABETES MELLITUS dan Solusi sehatnya
17 Kecerdasan dan Meningkatnya Konsentrasi
18 Mahir Mendiagnosa Lewat Denyut Nadi
19 DETOXIFICATION
20 Tarbiyah Islamiyah Madal Hayah
21 Membangun USAHAWAN yang HERBALIS dan HERBALIS yang USAHAWAN
Dst “ Kalo ada yang GRATIS, kenapa harus bayar……..”

ikutan yuuk....mau??

Monday, September 26, 2011

Homeschooling ala Falisya


Sudah bisa menyusun satu arah sampe tinggiiii...

Selain sekolah di Taman Firdaus Percikan Iman, di rumah baby Falisya punya banyak guru, ada ummi,abi,kakak,yayuk , Teteh (pengasuhnya) , Barbie, Buku, Pasir, Pohon, Sendal, Sepatu, dan sajabana. Sejatinya hidup itu belajar, so dimanapun belajar itulah sekolah. Rumahku, sekolahku. Selamat Hidup...selamat belajar ya beib..

Saturday, September 24, 2011

Quiz My sun shine (Quiz berhadiah :)




Quiz ini diadakan dalam rangka milad my sun, nur alfayn FATHAN Qarieba yang lahir tanggal 24 September kemarin. Alhamdulillah tanggal 24 september kemarin my sun, nur Alfayn fathan Qarieba milad ke 11 tahun, tanpa terasa sudah teenagers nih. Seperti biasa tiada perayaaan khusus hanya doa terlantun untuk kebahagiaan kaka Fathan.

Sebagaimana milad baby Falisya yg lalu, kaka Fathan juga mau berbagi hadiah nih. Hadiahnya produk tupperware, kerudung merk ummi (produk DT),dan boneka dudukan HP.Untuk memenangkan quiz ini caranya gampang hanya tinggal memilih 2 foto bayi Fathan diantara foto bayi teman-teman dan saudara-saudara fathan dibawah ini. Cukup sebutkan no nya saja ya. Eiiit siapa tahu salah satu bayi dibawah ini adalah anak, saudara, atau bahkan foto anda sendiri waktu bayi jangan bilang-bilang ya. Terima kasih untuk para bayi yang bersedia jadi fotomodelku...ini koleksi pribadiku loooh...

Semua bayi begitu damai dan teduh ya...cemerlang seperti juga my sun shine Fathan, teruslah berbinar sayaang...

Peraturannya:
1. setiap peserta hanya punya kesempatan 3 kali menjawab
2. ongkir hadia h ditanggung peserta yang menang jika diluar bandung jabodetabek ya.

Monggo dipilih...dipilih... :P

Wednesday, September 21, 2011

Saturday, September 17, 2011

Benarkah dari awal dia tak pernah direncanakan bagimu?

Jika dalam cintamu, hatimu lebih sering terluka daripada digembirakannya, maka lepaskanlah dia dari genggaman penuh khawatirmu. Jika dia memang cinta sejatimu, dia akan kembali sebagai belahan jiwa yang memuliakanmu. Tapi jika dia tak pernah kembali, maka memang dari awal dia tak pernah direncanakan bagimu. Hapuskanlah sedihmu, indahkanlah dirimu, dan harumkanlah ruang tamu di hatimu bagi cinta yang baru (Mario Teguh)

Benarkah dari awal dia tak pernah direncanakan bagimu? Lalu Allah dimana saat itu? 

Friday, September 16, 2011

Sebait Rindu Pada Ayah




Live concert yang bikin air mata bercucuran...

Pada bintang kutitip asa, tuk jumpa ayah tersayang
Pada bintang kutitip rindu, ayah kumenyayangimu...selalu.

Meski hanya bisa merekam sebait penggalan RINDU PADA AYAH, semoga dapat mengobati rinduku pada ayah, pada ibu dan pada-Nya...

Terima kasih untuk mas dadang, yang dihari istimewanya sedia berbagi kebahagiaannya menjadi bahagia kami...

Monday, August 15, 2011

Pesan dari Langit

Tepat sehari sebelum Ramadhan akhirnya hasratku kesampaian juga, bertemu Mimih, nenekku. Setelah hampir 5bulan tak bersua, akhirnya rinduku terobati juga. Ketiga anakku juga nampak senang bertemu uyutnya. Bahkan baby Falisya tak segan menciumi uyut satu-satunya, dan ikut makan satu mangkok dengan uyut saat makan siang. 


Pertama ku masuk kamar mimih, kulihat punggungnya membelakangi pintu. Seluruh wajahnya lurus menghadap Al-Qur’an besar disisi tangan kirinya yang lumpuh. Mimih sedang mengaji, Subhanallah. Teman paling setianya

 sekarang adalah Al-Qur’an.  Aku terharu.


Mimih nampak segar diusianya yang sudah kepala 9. Hanya saja seluruh tubuh sudah sulit digerakkan. Tentu saja itu wajar, tangan, kaki dan seluruh anggota badan  usianya sudah 90 tahunan. Usia yang tidak sedikit, Usia yang sangat banyak, begitu kata Fathiyya putriku. Bahkan untuk usia yang sebegitu banyaknya, Mimih masih ingat sholat, mengaji, bahkan ingat banyak hal lainnya. Sempat bertanya tentang kakakku, anak adekku, pembantu adekku, dan pastinya bertanya tentang ayahku, putranya. 

Selesai kusuapi makan siang, mimih bercerita banhwa baru-baru ini seekor ikan keluar dari kaki kiri nya yang 

lumpuh. Ikannya sangat cantik seluruh badan berwarna hitam berkilau dengan mulut dan ekor kuning cerah. Besarnya setelapak tangan mimih, begitu kata Mimih.  “Terus ikannya digoreng dong Mih?” tanyaku   ringan menanggapi cerita nenekku.


“Yaa ngga! Ga tau dimana, tadinya mimih simpan disebelah Mimih, mungkin ada yang membuang” jawab Mimih, sungguh-sungguh. Aku tiba-tiba disergap rasa bersalah karena tidak serius menanggapi cerita Mimih. “Mungkin disimpan sama Allah mih,” jawabku mencoba menenangkan nenek kesayanganku, tanpa sadar jawabanku childish banget ya...



“Kata wa Omat, itu artinya mimih mau dapet rejeki baik” Nenekku berseloroh lagi.  Masya Allah ternyata mimih sudah bercerita hal yang sama pada yang lain, termasuk pada kakak sepupu ayahku. Mungkin juga pada semua saudara yang menjenguknya. Cerita ini bukan halusinasi apalagi karangan semata. Seperti sebelumnya mimih juga cerita didatangi 4 orang lelaki bersih  yang memandangi terus, menjaga malam-malam sepinya. Mungkin 4 lelaki itu adalah malaikat kataku waktu itu. Allah tentu punya pesan didalamnya. Hanya saja terlalu tinggi untuk kutafsirkan. Yang pasti Allah memanjangkan usia mimih dengan banyak  pesan dan amanah didalamnya, pesan bagi yang muda, yang sehat, yang malas tilawah, yang enggan ibadah, malu sama mimih. Subhanallah...I love you Mih.


Thursday, June 23, 2011

Habis ditolak terbitlah tenang

Rating:
Category:Other
Di era globalisasi ini lapangan kerja sangatlah sempit. Pemangkasan tenaga kerja terjadi diberbagai perusahaan maupun ladang bekerja lainnya. Namun Alhamdulillah sejak duduk di bangku kuliah semester 2 aku sudah bekerja di lembaga kursus. Sehingga pasca diwisuda aku sudah punya penghasilan tetap sebagai guru disebuah yayasan swasta dengan proses yang tidak sulit.

Aku sangat menikmati pekerjaanku sebagai guru TK saat itu. Namun orangtuaku yang notabene Pegawai Negeri Sipil memiliki harapan semua anak-anaknya bekerja juga sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kakakku sejak kuliah sudah berstatus ikatan dinas sehingga langsung menjadi PNS saat lulus kuliah. Maka selanjutnya adalah giliranku yang menjadi harapan orang tuaku untuk mewujudkan impian mereka.

Setiap ada pembukaan lamaran PNS di bidang pendidikan, ibuku akan menelponku dengan penuh semangat untuk memotivasiku mengajukan lamaran. Awalnya aku menolak dengan halus. Aku dan suami berpandangan bahwa untuk berjuang di jalan Allah tidak harus menjadi PNS. Bahkan kami sangat prihatin mendengar berita banyak masyarakat yang tertipu mulut manis oknum yang menjanjikan kursi tertentu sebagai PNS. Ada yang mengeluarkan 40 smpai 100 juta demi melancarkan prosesnya. Ada yang menyiapkan segala bentuk sesajen sebagai ritual yang disarankan paranormal bahkan ada yang mau mentato wajahnya ( http://ummif2.multiply.com/reviews/item/57 ) demi diterima sebagai PNS. Masyarakat seperti terhipnotis dengan ‘nikmat’nya menjadi PNS. Padahal PNS bukan jaminan orang jadi kaya, jadi sejahtera, apalagi masuk surga. Bukan. Namun masyarkat meyakini bahwa satu-satunya pekerjaan yang jauh dari resiko PHK adalah PNS ditambah jaminan pensiunan hingga akhir hayat.

Dengan segala upaya ibu dan ayahkuku terus mendorong kami untuk menjadi PNS. Maka dalam rangka berbakti, birrul walidain, setiap tahun kami mengikuti seleksi penerimaan CPNS. Diawali tahun 2001 kami mencoba di kotamadya Bandung, namun gagal. Tahun 2002 kami melamar di Kabupaten Bandung dan Subang, namun ditolak juga. Tahun berikutnya di Kabupaten Garut, namun bernasib sama. Setiap kami melamar kami selalu mendapat panggilan untuk Test tulis, namun tidak pernah lolos seleksi tahap selanjutnya. Namun Subhanallah setiap usai melamar dan ditolak, hati ini selalu semakin tenang, semakin mensyukuri nikmat Allah, semakin tak ada beban. Jika buku Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, maka sloganku habis ditolak terbitlah tenang.

Hingga melamar yang ke 6 kalinya di kota Cirebon aku baru diterima. Saat itu aku sudah punya 2 orang anak, dan saat test tulis aku hanya ingat Allah, ingat ayah ibuku, serta kedua anakku, tak ingat sedikitpun materi yang diujikan. Sehingga kejutan besar bagi kami saat menemukan namaku tertera di koran sebagai CPNS untuk posisi guru SMP. Tak disangka, tak diduga, habis diterima terbitlah senang


Sunday, June 19, 2011

Mengikat makna hidup: UN dan Fenomena langka membaca

Hasil UN SMP tahun ini di kota Bandung ternyata paling rendah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan menurut data, fenomena ini berulang setiap tahun. Ada apa dengan Bahasa Indonesia hingga pencapaian terendah hasil UN justru pada pelajaran Bahasa Indonesia yang notabene sebagai bahasa ibu mereka? Yang mengherankan justru perolehan nilai  Bahasa Inggris lebih baik daripada nilai Bahasa Indonesia mereka.

Aku yakin jawabannya bukan karena bahasa Inggris lebih mudah, atau metoda pengajaran Bahasa inggris lebih baik, bukan sama sekali bukan. Tapi karena rendahnya minat baca siswa, sehingga ketika bertemu banyak wacana dalam soal UN tentunya siswa gagap menjawab pertanyaan. Dan analisa ini ternyata dibenarkan beberapa temanku, guru-guru Bahasa Indonesia. Miris sekali.

Aku tidak bias menyalahkan siapapun dalam hal ini karena untuk cinta membaca bukan hasil sulap satu malam. Namun sebuah hasil proses pembiasaan menahun. Berawal sejak dikandung ibu, maka kebiasaan ibu membaca menular pada janin. Berlanjut saat masa golden age, pembiasaan mengakrabi buku tentu sebuah proses menuju cinta membaca. Hingga dimasa sekolah dasar, sekolah menengah , dan seterusnya buku bukan barang asing lagi, membaca menjadi sebuah kebutuhan jiwa, sebuah refreshing yang menyenangkan.

Karena itu ketika UKK hari pertama puteriku,Fathiyya tidak buka buku karena merasa sudah percaya diri menaklukan soal-soal UKK, aku sangat keberatan. Bukan keberatan dengan rasa percaya dirinya, tapi bagiku jauh lebih penting proses dia usaha  ‘menggauli ‘ bukunya daripada nilai UKK nya. Tidak penting hasil akhirnya, karena pada prosesnya dia mendapat banyak hal dari sekedar nominal nilai.

Lalu pada hari kedua UKK saat akan belajar Fathiyya sampai menangis Bombay, dua matanya sembab karena menangisi pelajaran bahasa Arab yang menurut analisa abinya dia tidak percaya diri karena belum hafal banyak kosakatanya. Dibantu pun tidak bisa karena dia sibuk menangis. Sedih sekali melihatnya. Sedih melihat puteri kecilku kalah sebelum bertanding. Usut punya usut, dia punya ketakutan tidak bisa dapat rangking lagi. Oalaaah….

Malam itu kusampaikan pada puteriku, bahwa ia tidak harus menjadi yang terbaik tapi ia harus berusaha yang  terbaik yang ia bisa. No matter how  the score is, the most important is the effort. Bahkan kusampaikan padanya, meski dapat nilai nol sekalipun tidak masalah asalkan kita sudah belajar, sudah berusaha yang terbaik. Ayo semangat membaca yayu sayaaang…berapapun nilainya diatas kertas, tidak bisa mengalahkan nilai (=value) membaca (=belajar) yang diperoleh. Makna belajar tidak bisa diukur dengan nilai diatas kertas, karena IQ yang dianugerahkan Allah berbeda untuk setiap hambaNya.

Alhamdulillah baby Falisya sudah cinta membaca sejak kecil, mengikuti jejak kakak-kakaknya nih. 










Setiap pagi ikut baca Koran seperti abinya.

 Setiap maghrib ikut baca Iqra dengan kaka dan yayuknya. Bahkan saat mandi pun ia senang membaca.

 Kalau sedang tantrum, dengar kata ‘kita baca buku Dora yuuuk…’ langsung deh tenang lagi…he..he..

Thursday, April 28, 2011

Dan Pak Gubernur pun bernyanyi....

 

Saat membaca rundown acara undangan wisuda abi FZF 21 April yg lalu, yang terpikir olehku adalah rangkaian acara yang akan sangat membosankan. Tentu saja membosankan, 4 jam duduk manis mendengarkan para Guru Besar berpidato ilmiah. Maka kuputuskan anak-anak kami tidak perlu ikut dalam acara resmi wisuda abinya.

Prosesi upacara wisuda berjalan lancar satu persatu. Aku duduk diatas balkon tepat diatas jajaran kursi suamiku. Ruang Gymnasium masih sama seperti dulu saat aku juga pernah diwisuda bersama teman-teman karibku. Dari atas balkon, rasanya kenangan lama terlihat berputar kembali dengan jelas. I missed them a lot.......

Hingga tiba saat pidato sambutan dari rektor UPI, Prof. Sunaryo, pidato paaanjaaaaang dan laaaamaaaa hanya bisa kutangkap satu pesan: “ Para guru harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD ”.

Oalaaaah bagaimana dengan guru Bahasa Inggris apakah wajib dengan Bahasa Indonesia EYD sebagai pengantar bukan dengan bahasa Inggris Pak Rektor? Sayangnya tidak ada acara tanya jawab ya, kalau saja ada tentu aku ngacung deh he..he...

Pidato pak Rektor berlangsung cukup lama sampai-sampai beberapa guru besar asyik ngobrol. Ditengah-tengah pidato pak Rektor tiba-tiba suara gong berbunyi dilanjut suara gamelan bertalu-talu riuh. Ada apa gerangan? Ooooow ternyata ada Gubernur Jawa Barat, Ust. Ahmad Heryawan, Lc memasuki ruangan.

Boalk-balik kulihat undangan, mencari acara apa yang akan diisi oleh Pak Gubernur. Kok tidak ada clue? Jangan-jangan Pak Gubernur menghadiri upacara wisuda ini karena ada c mas koe yang diwisuda he..he...narsis alay....

Pidato Pak Rektor yang terputus dilanjut lagi. Oalaaa piye tooooh Pak rektor.....gundukan wisudawan dan wisudawati yang terjebak di toilet sudah 2 jam loh mengikuti upacara wisuda dari depan pintu toilet pak! Ternyata mereka yang ke toilet sebelum upacara dimulai dan keluar saat upacara sudah mulai tidak diperkenankan duduk dikursinya lagi sampai pidato-pidato guru besar selesai! Masya Allah, segitu sakralnya kah????

Alhamdulillah c mas tidak ikut diantara rombongan yang terjebak di toilet.

Acara terakhir ternyata pidato ilmiah dari Pak Gubernur sebelum penyerahan ijazah dan penyematan tali toga. Pidato ilmiah pak Gubernur juga paaanjaaang dan laaamaaaa..tapi cukup menarik untuk disimak.

Selain banyak memuji peran sentral guru beliau juga bernyanyi untuk para guru loh. Sepenggal lagu yang beliau nyanyikan :

 ......kita jadi bisa dibimbing bu guru,

 kita jadi  pintar dibimbing pak guru...

jasamu tiada tara......

 

Prok..prok..prok!! Serentak tepuk tangan membahana diakhir lagu yang beliau nyanyikan. Aha!! Seru juga upacara wisudamu mas! Bikin kabita aja, mau dooooong diwisuda dengan dihadiri Pak Gubernur juga en request lagunya Oemar Bakri he..he....