Showing posts with label baladaguru. Show all posts
Showing posts with label baladaguru. Show all posts

Saturday, May 26, 2012

Pelatihan jurnalistik: 'Ngelmu en refreshing'




Ini salah satu oleh-oleh pelatihan jurnalistik utk pembina mading SMP sejawabarat tgl 20 Mei-23 mei yg lalu...seruuu banyak ilmu, rame banyak temen baru en nostalgia dengan temen lamaa...

cerita lengkapnya pending dulu ya ... atau tidak perlu diceritakan fotonya sudah bercerita lengkap ya :D

Thursday, May 3, 2012

Lomba Penulisan Artikel dan Karya Jurnalistik (Feature)Hardiknas 2012 KEMENDIKBUD | Media Pendidikan

http://www.m-edukasi.web.id/2012/03/lomba-penulisan-artikel-dan-karya.html
Alhamdulillah abi Fahrus Zaman Fadhly menjadi the 1st winner, kemarin beliau bersama pak menteri untuk menerima penghargaannya.

PS:Abi, titip pesan untuk pak menteri dari ummi sang guru cilik mohon ada regulasi agar seragam siswa SMP putra bercelana panjang mengingat mereka sudah akil baligh yaa...

Thursday, April 26, 2012

Suatu Ketika, Aku di Titik Nol


Mataku nanar menatap siswaku yang sedang bergelut dengan soal US (Ujian Sekolah). Ini baru hari pertama US dan baru berlangsung 15 menit tapi rasanya aku ingin berlari meninggalkan ruangan. Berlari pulang menemui putri kecilku yang sedang menangis mencariku dirumah. Aku ingin pulang.

Mataku mulai berkaca-kaca. Namun harus kutahan. Apa jadinya jika pengawas US berderai air mata saat mengawas? Tentu hanya akan menambah galau dihati siswaku. Selain itu profesionalisme guru pun dipertaruhkan. Maka sekuat tenaga ku tahan bendungan dimataku agar tidak pecah.

Hari itu adalah hari pertama pembantuku resign karena hamil tua. Setelah bekerja 2 tahun bersama kami tentu tidak mudah bagi Falisya yang masih berusia 2,5th untuk  beradaptasi  tanpanya. Dan hari itu hari pertama juga bagi pembantu baru yang bekerja menggantikannya. Hari pertama bagi Falisya  bertemu pengasuh  barunya, dan aku tidak  bersamanya untuk menemaninya beradaptasi. Aku tidak ada untuk mengajari pengasuhnya cara menyeduh susu dengan takaran tepat, apalagi membimbing dalam melakukan pekerjaan rumah. Hari itu aku malah  diluar rumah dari jam 06.30 pagi sampai 05.30 sore !!! hiks …

Aku bukan pegawai Bank, apalagi anggota DPR yang memang punya jam kerja belasan jam dalam sehari. Aku hanya seorang guru biasa, dan 11 jam bekerja tentu bukan jam kerja yang sehat bagi seorang pendidik. Namun jadwal ini sepertinya takdir yang harus kujalani selama 3 minggu kedepan. Mengingat kelas 9 akan menghadapi UN maka aku yang biasanya  hanya mengajar 5 kelas 7 disiang hari dan 2 kelas 8 di pagi hari., maka sekarang aku harus mengajar kelas 9 sebagai pemantapan intensif.  Artinya aku harus mengajar kelas 7,8 dan 9 dengan jadwal pagi & sore, dengan total jam mengajar 40 jam . Oooops membayangkannya saja aku sudah sesak nafas 

Bagiku sebenarnya menyenangkan saja jika aku harus mengajar banyak kelas. Namun jadwal yang tidak bersahabat membuatku dzolim pada anak-anakku di rumah.  Dengan jam mengajar pagi sampai sore, aku hanya sempat mencuci baju dan memasak selepas shubuh. Aku tak sempat memandikan falisya, tak sempat menyuapinya, menyiapkan bekal sekolahnya apalagi mengantarkannya ke sekolah. Bagi Fathan&Fathiyya yang sudah usia SD dan bersekolah full day tidak terlalu bermasalah dengan jam kerja baru umminya. Namun bagi falisya yang masih berusia 2,5th tentu menjadi masalah besar, dan menjadi nightmare bagi umminya.

Aku masih diam terpaku menatap murid-muridku yang saat itu masih khusyu  dengan soal US nya. US ini adalah ujian yang 60% nilainya menentukan kelulusan mereka. Dan aku masih diam membisu membayangkan kelulusanku sendiri. Lulus kah aku menjalani ujian hidup kali ini?  3 minggu dengan jadwal pagi – sore menjadi ujian bagi keikhlasanku. Ikhlaskah aku menjalani 
profesiku sebagai guru? ikhlaskah aku meninggalkan 3 buah hatiku demi ratusan anak bangsa Indonesia? Aku rasa aku belum lulus ujian ini, karena air mata masih berderai. 

Malamnya aku menangis sejadi-jadinya dikamar. Suamiku dengan sabar  mendengar keluh kesahku. Aku merasa saat itu aku benar-benar di titik nol. Aku merasa tak berdaya, tersiksa dengan pikiranku sendiri. apa yang kucari  dari bekerja diluar rumah sejak pagi sampai sore? 

Materikah? 
Suamiku sudah menafkahi kami dengan baik. Selain itu gaji PNS tentu tak seberapa, apalagi aku 
belum disertifikasi.

Ilmukah? 
Banyak majelis ilmu bersebaran, banyak seminar dan lembaga formal - informal serta buku-buku yang menyediakan ilmu.

Atau aktualisasi diri?
Untuk atualisasi aku punya blog, ada komunitas penulis, ada yayasan percikan  iman, ada butik on line dan banyak wadah lain sebagai  tempat aktualisasi diri. Lalu apa yang kucari??? Ridho Allah bukan? Jannah-Nya sudah pasti yang kuharapkan. Ya aku hanya mengharap ridho-Nya agar kelak aku mendapat satu kavling kecil di jannah-Nya.

Akankah profesi guruku mengantarkanku kesana? Bukankah justru yang akan aku pertanggung jawabkan pertama adalah amanahku dirumah? Bukan seberapa bagus RPPku  atau seberapa hebat dan banyaknya jam aku mengajar? Hiks …aku mau pension dini saja rasanya. Dan aku menangis sejadi-jadinya. Lepas semua gundah dihati bersama air mata yang berderai. Suamiku masih dengan sabar mendengarkan keluh kesahku sambil sesekali mengusap air mataku. Tausyiah nya seskali menghujam hatiku dan melerai dukaku “ Ummi , jika ummi mengajar dan mendidik murid-murid  ummi disekolah dengan ikhlas maka ummi sama dengan mendidik anak-anak ummi dirumah, Allah tidak akan salah menghitung amaliah seseorang” 

Aku hanya termangu “benarkah?”. Aku masih tidak yakin karena yang ku yakini, my full time job is 
being mom, artinya aku harus memprioritaskan amanahku di rumah, sedangkan being teacher is only my part time job.

Dan aku baru tersadar apa jadinya kalau setiap ibu berpikiran sama sepertiku? Siapa yang akan all out menjadi guru disekolah? Siapa yang akan benar-benar memperhatikan pendidikan anak bangsa jika semua perempuan harus menjadi ibu rumah tangga?


Setelah malam itu aku bisa menarik sesungging senyum di bibirku lagi. Belajar menemukan ikhlas dihatiku. Belajar ikhlas menjalani takdirku sebagai seorang ibu sekaligus abdi  Negara yang melayani rakyat. Meskipun hingga minggu ketiga berakhir, bahkan hingga hari ini aku masih belum lulus belajar ikhlas, aku tak kan menyerah. Aku akan terus belajar ikhlas, belajar menata hati, agar tak ada lagi airmata, agar senyum itu bermakna sodaqoh, agar hidupku bermanfaat didunia dan akhirat.

"Khairunnas anfa’uhum linnas",
 "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

PS: fathan, fathiyya dan falisya ku sayang, maaf atas waktu dan cinta yang terbagi …karena ternyata ummi bukan hanya untukmu saja tapi juga untuk ummat ya nak. I love you because of Allah...always...

Sunday, June 19, 2011

Mengikat makna hidup: UN dan Fenomena langka membaca

Hasil UN SMP tahun ini di kota Bandung ternyata paling rendah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan menurut data, fenomena ini berulang setiap tahun. Ada apa dengan Bahasa Indonesia hingga pencapaian terendah hasil UN justru pada pelajaran Bahasa Indonesia yang notabene sebagai bahasa ibu mereka? Yang mengherankan justru perolehan nilai  Bahasa Inggris lebih baik daripada nilai Bahasa Indonesia mereka.

Aku yakin jawabannya bukan karena bahasa Inggris lebih mudah, atau metoda pengajaran Bahasa inggris lebih baik, bukan sama sekali bukan. Tapi karena rendahnya minat baca siswa, sehingga ketika bertemu banyak wacana dalam soal UN tentunya siswa gagap menjawab pertanyaan. Dan analisa ini ternyata dibenarkan beberapa temanku, guru-guru Bahasa Indonesia. Miris sekali.

Aku tidak bias menyalahkan siapapun dalam hal ini karena untuk cinta membaca bukan hasil sulap satu malam. Namun sebuah hasil proses pembiasaan menahun. Berawal sejak dikandung ibu, maka kebiasaan ibu membaca menular pada janin. Berlanjut saat masa golden age, pembiasaan mengakrabi buku tentu sebuah proses menuju cinta membaca. Hingga dimasa sekolah dasar, sekolah menengah , dan seterusnya buku bukan barang asing lagi, membaca menjadi sebuah kebutuhan jiwa, sebuah refreshing yang menyenangkan.

Karena itu ketika UKK hari pertama puteriku,Fathiyya tidak buka buku karena merasa sudah percaya diri menaklukan soal-soal UKK, aku sangat keberatan. Bukan keberatan dengan rasa percaya dirinya, tapi bagiku jauh lebih penting proses dia usaha  ‘menggauli ‘ bukunya daripada nilai UKK nya. Tidak penting hasil akhirnya, karena pada prosesnya dia mendapat banyak hal dari sekedar nominal nilai.

Lalu pada hari kedua UKK saat akan belajar Fathiyya sampai menangis Bombay, dua matanya sembab karena menangisi pelajaran bahasa Arab yang menurut analisa abinya dia tidak percaya diri karena belum hafal banyak kosakatanya. Dibantu pun tidak bisa karena dia sibuk menangis. Sedih sekali melihatnya. Sedih melihat puteri kecilku kalah sebelum bertanding. Usut punya usut, dia punya ketakutan tidak bisa dapat rangking lagi. Oalaaah….

Malam itu kusampaikan pada puteriku, bahwa ia tidak harus menjadi yang terbaik tapi ia harus berusaha yang  terbaik yang ia bisa. No matter how  the score is, the most important is the effort. Bahkan kusampaikan padanya, meski dapat nilai nol sekalipun tidak masalah asalkan kita sudah belajar, sudah berusaha yang terbaik. Ayo semangat membaca yayu sayaaang…berapapun nilainya diatas kertas, tidak bisa mengalahkan nilai (=value) membaca (=belajar) yang diperoleh. Makna belajar tidak bisa diukur dengan nilai diatas kertas, karena IQ yang dianugerahkan Allah berbeda untuk setiap hambaNya.

Alhamdulillah baby Falisya sudah cinta membaca sejak kecil, mengikuti jejak kakak-kakaknya nih. 










Setiap pagi ikut baca Koran seperti abinya.

 Setiap maghrib ikut baca Iqra dengan kaka dan yayuknya. Bahkan saat mandi pun ia senang membaca.

 Kalau sedang tantrum, dengar kata ‘kita baca buku Dora yuuuk…’ langsung deh tenang lagi…he..he..

Monday, June 13, 2011

Aku dan anak-anakku




Tahun ini aku di amanahi menjadi walikelas 8C, ini adalah foto bersama mereka sebelum kenaikan kelas. Sebenarnya ini foto di studio yang kedua kalinya setelah yang pertama aku gagal berpose karena harus rapat dinas tepat diwaktu yang telah ditentukan. Akhirnya kita foto bersama lagi deh...

Satu tahun bersama kelas 8C ini banyak suka dukanya mengingat kelas 8C terkenal kelas special pake telor he..he.... Kelas 8C paling terkenal dengan cerewetnya, aktifnya, dan truoble makernya he..he...Meski begitu mereka kelas yang solid sesuai moto mereka : We Stand Together , meski beberapa kali dapat sanksi karena kesolidannya tidak piket sepulang sekolah he..he...

I love you All 8C

Wednesday, May 18, 2011

IHT (In House Training) @pangalengan

Start:     May 20, '11 10:00a
End:     May 21, '11 12:00a
Location:     Pangalengan
IHT yang diadakan sekolah kali ini dilaksanakan di Pangalengan jauuuuh dari skull and home, meski boleh bawa baby tapi nasib 2 kakaknya gimana???? hik..hik...

Monday, March 29, 2010

4months




Baby Falisya waktu umur 4 bulan niih...semoga foto2nya tersimpan rapi di MP sbg kenangan dan warisan kelak Falisya besar bisa mengenang kembali masa-masa lucunya innocent tanpa dosa he..he..

Wednesday, June 10, 2009

Please vote for your favorite letter...^_^

Dear all teachers, sisters, brothers, and friends
We (I and Fathiyya (my girl)) need your help to choose the favorite letter of lovely letters below, since Fathiyya was so glad and so thankful to have such beautiful letters from her teachers at TK Firdaus Percikan Iman. She wrote some simple letters to her teachers and friends . She wrote only 3 or 5 sentences enriched by her own 'asal jadi' drawing, but ... wow her teachers replied her letters in such lovely 'real' letters. They bring joyful to my girl (dugi ka ajrut-ajrutan c dede macana he...he...), en of course they 'melted' my heart succesfully...

Therefore we think we need to apreciate them by giving them 'creative teacher award' from multipliers he...he...(soale penilaian fathiyya subjektif bangeeeed....jadi ummina lieur he..he..)

So , we invite you to give your comments and please choose one of your favorite letter. Fathiyya also has a lovely handycraft for the favorite multiplier comment. Thank you for your attention. Peace...
Wassalamu'alaykum wR.wB

Here are the candidates:


1st letter from bu ani
Ibu Ani
1. 2nd letters from bu ani

2. From bu Ella

3. From bu Rully
Bu Rully

Bu Rizka
4. From bu Rizka

5. From Pak Aan
Pak Aan

6. From Bu Siti
Bu Siti


Thursday, June 4, 2009

Please Vote for your favorite letter...

Dear all teachers, sisters, brothers, and friends
We (I and Fathiyya (my girl)) need your help to choose the favorite letters, since Fathiyya was so glad and so thankful to have such beautiful letters from her teachers at TK Firdaus Percikan Iman. She wrote some simple lettesr to her teachers and friends . She wrote only 3 or 5 sentences enriched by her own 'asal jadi' drawing, but ... wow her teachers reply her letters in such lovely 'real' letters. They bring joyful to my girl (dugi ka ajrut-ajrutan c dede macana he...he...), en of course they 'melted' my heart succesfully...(nu ieu mah hyperbola nya *)

Therefore we think we need to apreciate them by giving them 'creative teacher award' from Multipliers he...he...(soale penilaian fathiyya subjektif bangeeeed....jadi ummina lieur he..he..)

So , we invite you to give your comments and please choose one of your favorite letters. Fathiyya also has a lovely handycraft for the favorite multiplier comment. Thank you for your attention. Peace...
Wassalamu'alaykum wR.wB




1st letter from bu ani
 
 

Thursday, November 27, 2008

Lirik Himne Guru diubah, Indonesian should know

Pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang ke 63 tahun ini, ada berita baru yang berkaitan tentang lirik lagu Himne Guru yang saya lansir dari kompas.com. Lirik terakhir himne guru berubah dari Pahlawan tanpa tanda jasa menjadi PAHLAWAN PEMBANGUN INSAN CENDEKIA. . Perubahan tersebut mulai disosialisasikan 2008 ini, termasuk saat memperingati Hari Guru, 25 November 2008.

Lagu berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa tersebut ditetapkan sebagai himne guru sejak tahun 1994. Perubahan syair merupakan hasil negosiasi Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, PGRI, dan penciptanya, Sartono.


Mengingatkan kembali pada masa sekolah dulu, setiap Senin selalu menyanyikan lagu ini setiap upacara. Nah kalo liriknya diubah jadinya begini, coba masih bisa nyanyikannya ga ya ?

Terpujilah, wahai engkau, ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku

Semua baktimu, akan kuukir, di dalam hatiku

Sbagai prasasti, terimakasihku, tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,

Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan pembangun insan cendekia

Selamat hari guru…



Monday, September 15, 2008

Hatiku malu T_T

Telingaku memerah, tubuhku terasa dingin, tak berani mengangkat wajah lagi. Kata-kata suamiku menghujam dadaku laksana pedang Zulfikar, sakit namun sejatinya adalah obat bagi sakitnya hatiku.

Its just a trivial thing, hanya masalah kecil bin sepele namun ternyata memperlihatkan betapa aku lebih kecil dan kerdil sebagai manusia. Astaghfirullah...

Berawal jumat kemarin, dikelas 7H aku menangkap basah seorang siswa asyik membaca komik Avatar disaat teman-temannya yang lain mengerjakan tugas dariku. Waktu kudekati, ia mengaku salah karena khilaf dan tidak keberatan dengan "kebijakanku" menyita komiknya. Case is closed! ( I thought ).

Sabtu paginya waktu nyantei nonton anak-anak maen layangan dengan abinya, aku memamerkan komik hasil sitaanku (anak-anakku emang doyan melalap komik avatar maupun filmnya). Mereka terlihat senang, dan langsung bergantian membacanya. Waktu sang abi ikutan baca, aku langsung cerita asal muasal komik sitaan itu. Kupikir tidak ada yang salah saat aku membawa komik itu pulang. Ternyata komik itu mengundang ceramah dari sang abi. "Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah," Suamiku menghujaniku dengan Surat An-nisa ayat 40 lengkap dengan artinya yang sungguh menampar hatiku. "Kembalikan lagi ummi komiknya, meski anak itu memang salah, melanggar aturan dan ikhlas komiknya disita ummi. Tapi tetap ummi tidak berhak membawa pulang komiknya, itu bukan milik kita."

Duuuh kok aku ga mikir sampe situ ya...jadi terbayang wajah innocent siswaku. Hatiku diserbu rasa bersalah. Malu sekali dihadapan Allah.
Ingin rasanya segera bertemu siswaku untuk mengembalikan haknya, sayang waktu itu masih hari sabtu, artinya aku harus menunggu hingga minggu berlalu. Sabaaaar menahan malu...

Dan tadi pagi, senin kelabu untukku. Setelah tergesa-gesa kucari siswaku, ternyata dia absen karena sakit. Waktu kutanya teman sebangkunya dimana rumahnya, ternyata jauh sekali (1,5 jam perjalanan) secara waktuku mepet kalo harus kerumahnya. Jadi semakin dihinggapi rasa bersalah...hik...hik...

Duhai hati...sabaaar...


Monday, July 7, 2008

@Farewel party, cincin itu disematkan T_T




Enam bulan berlalu sudah, foto-foto penuh kenangan itu tersimpan di media lockerku tanpa berani ku sentuh. Duuuh segitunya he..he..

Juli 2007 kemarin, tugas ku di Cirebon usai sudah seiring terbitnya SK mutasi ku ke Bandung. Bahagia bukan kepalang karena berkumpul husband tersayang, namun sedih tiada terkira karena berpisah sahabat-sahabat tercinta.

Pada farewel party ini aku dan rekanku , pak Hendra juga pindah UPTD mengajar namun masih dilingkungan Cirebon. Sedangkan aku ke Bandung, maka selepas Farewel party teman-teman guru satu bis mengantarku ke Bandung sekaligus wisata (semoga bukan yang terakhir).

PS:Bu Ani, bener nih akhir Desember masih boleh ikut wisata rombongan SMPN 3 Cirebon? (berharap.com*)

Friday, April 4, 2008

Hari Penuh Air Mata

Ini hari DISTRO (DIbuat STROess!) bangeet secara dari pagi buta ( ngga buta banget sih…) sudah dikejar-kejar orang tua siswa. Jam 06.05 pas aku masih mandiin kaka n dede, pintu depan ada yang ketok-ketok. Kupikir itu c mba, khadimat yang biasa bantu-bantu dirumah. Kok ya pake jalan depan en tumben bisa datang sepagi ini, ngga biasa-biasanya, pikirku.  Setengah berlari sambil gendong dede yang masih naked, aku buka pintu. Loh ternyata Ismet (bukan nama sebenarnya), anak didikku yang sudah bolos 5 hari.

 

Didampingi bapaknya, mereka berdua kupersilahkan duduk. Alhamdulillah aku sudah dengan atribut seragam pemda + jilbabku, secara biasanya mandiin anak-anak masih dengan baju kebesaran (berdaster ria). Sambil memangku putriku yang masih porno abiss, aku dengarkan curhat sang Bapak yang katanya sejak tahu Ismet bolos dan sudah terjerumus ngobat, mabuk, dan pacaran, setiap malam hingga shubuh sang bapak menyusuri setiap ruas jalan, gang, warung-warung sampai rumah kosong demi menemukan Ismet. Setelah ditemukan, Ismet langsung dibawa menghadapku (secara walikelasnya gitu loh…tapi jaka sembung ya???!). Ia diminta bapaknya bersumpah didepanku untuk tidak membolos lagi. Ini bukan dalam rangka hyperbola tapi beneran bersumpah karena bapaknya yang lumayan military style itu tidak mau anaknya bolos lagi secara Ismet ini sebulan lagi mau Ujian Nasional (kelas 9).

 

Sampai disekolah jam 07.30, ternyata sudah ditongkrongin 4 pasang orang tua murid yang mau konsultasi tentang anak-anaknya.

 

1. Ibu dan Ayahanda Erawan.

Mereka berdua sudah hampir give up menghadapi temperamental putranya, Erawan. Merka bilang Erawan ini salah asuh sejak tinggal dengan neneknya di Brebes (Loh yang ngasuh harusnya sopo toooh..kok ya nyalah2i asuh???!) . Setelah panjang lebar berbincang, finally they give up. Erawan sudah tidak mau sekolah lagi, dia mau kerja saja biar bisa gonta-ganti HP katanya (Hadduuuuh ijazah SMP aja ga ada gimana mau bisa kerja buat ganti HP???) Padahal ujian nasional tinggal sebulan lagi, bertahan Er…bentaaar lagi….

 

2. Ibunda Ismet

Nah ini ibunya Ismet yang pagi tadi bapaknya kerumah. Sambil bercucuran air mata ia bercerita, bahwa Ismet selalu dipukuli bapaknya setiap ketahuan mabok atau pacaran. Makanya Ismet berani kabur dari rumah dan bolos sampai 5 hari. Tidak surprise juga dengar  cerita ibunda Ismet ini secara lihat bapaknya tadi pagi meski terdengar suaranya bijak tapi tetap berkesan garang.

 

3. Ibunda Alif

Waktu ibunda Alif dtg kesekolah aku masih di Gerai Halo (ijin bentar keluar sekolah) karena limited time mengurus pemblokiran kartu halo suami yg hilang beserta communicatornya. Tiga kali hp ku berdering guru piket mengabarkan ada tamu menungguku disekolah. Loh bukannya sudah kutemui semua??? Aku sempat bertanya-tanya. Ternyata tamu yg berbeda. Oalaaaaah guys…sepagian sudah ngos-ngosan nih, give me a break plizzzzzz!!

 

Setiba disekolah ibunda Alif sudah nunggu 1 jam katanya. Maaf ya bu!!! (Ga pake janjian sih)

 

Sebelum berkata-kata ibunda Alif sudah berkaca-kaca, lalu..tes…tes…berderailah…

Ono opo Iki??? Wadduuuh…aku jadi bingung secara Alif anak yang manis, pendiam dan  ga  neko-neko. Daaan kasus yang laiinnnya masih ngantai…mau ditambah apalagi nih??

 

Ternyata ibunda Alif ini curhat sejak ayahnya Alif meninggal dunia 3 tahun lalu Alif menjadi sangat pendiam dan ibu yang sibuk bekerja menggantikan tugas menafkahi ketiga putranya ini merasa berdosa karena belum bisamemberi waktunya bertemu denganku atau untuk sekedar menanyakan perkembangan putranya yang mau ujian nasional. Dan kemarin Alif kepergok ibundanya sedang menangis didepan adik-adiknya, menangis karena kasihan lihat mamanya bekerja keras untuk biaya  mereka. Subhanallah…dan mengalirlah cerita sedih itu…

Alif yang baik hati namun tak berdaya karena keadaan ekonomi yang tidak memadai.

 

4. Ibunda Ishak

 Beliau sempat mendengar bagian akhir dari curhatnya ibunda Alif (jadi ga enak juga…) secara beliau datanglangsung duduk bersama-sama.

 

Kasus Ishak ini hampirkebalikannya kasus Alif.  Ishak dengan orang tua utuh, bergelimang harta, namun tersesat bersama arus globalisasi yang makin  g jelas mau ke mana, ke Barat kah dengan hedonisme atau ke Timur yang sedang hilang identitas ketimurannya. Ishak memang sedang dipuncak pencarian identitas…semua yang baru ingin dia coba…ada yang menawarkan arak dengan merk baru hingga obat anjing gila terbaru pun dia ingin coba. Efeknya yang tadi nya rangking satu sekarang dia masuk 10 besar di kelasnya dan masuk gank anak gaul di luar sekolah. Mudah-mudah belum terlambat merangkul kembali Ishak ke jalan yang lurus ya bu…Insya Allah.

 

Alhamdulillah…hari penuh air mata terlalui sudah…hari penuh tarbiyah yang mungkin tak setiap kita akan mendapatinya lagi…

 

Duhai Rabb terkasih...Kau saja yang mengetahui yang terbaik bagi kami, mudahkanlah segala sesuatunya, tunjukkan jalan yang terbaik bagi kami. Amiin.