suara abi terdengar galau, ga rela putrinya punya fans he..he…
Saturday, April 28, 2012
Malam minggu bicara cinta
suara abi terdengar galau, ga rela putrinya punya fans he..he…
Friday, September 16, 2011
Sebait Rindu Pada Ayah
Live concert yang bikin air mata bercucuran...
Pada bintang kutitip asa, tuk jumpa ayah tersayang
Pada bintang kutitip rindu, ayah kumenyayangimu...selalu.
Meski hanya bisa merekam sebait penggalan RINDU PADA AYAH, semoga dapat mengobati rinduku pada ayah, pada ibu dan pada-Nya...
Terima kasih untuk mas dadang, yang dihari istimewanya sedia berbagi kebahagiaannya menjadi bahagia kami...
Monday, March 16, 2009
Rasa bersalah itu....
Sabtu ini Fathiyya akan tampil di taman ganesha Bandung dengan kostum ala Palembang di parade Budaya bersama sekolahnya. dan sebagaimana Sabtu yang lain aku tidak bisa mendampinginya lagiiii karena ada IHT (In House Training) dari tempat kerja
Waktu Sabtu yang kapaaan juga aku ga bisa mendampingi dia lomba mewarnai, maka aku bilang "Fathiyya ga ikut lomba dulu ya maen ma Kaka aja dirumah...ummi ada ngawas Try Out"
Eeen keputusan ini menuai protes dari guru-gurunya Fathiyya yang pada yakin bahwa Fathiyya bisa menyabet piala gubernur waktu itu...
Dan sekarang aku tak mau mengulang kesalahan yang sama, biarpun tak bisa hadir Fathiyya harus tetap ikutan acara...hmmm...titip ma uncle nya aja kali ya secara ummi abi nya absen niih
Monday, November 10, 2008
Setangkai ilalang itu...
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Dua hari ini bawaannya sendu terus...Sampe siang tadi Fathiyya pulang sekolah berlari padaku, dan berbisik padaku:
"Ummi dede punya sesuatu untuk ummi"
Keningku berkerut, apalagi ya kira-kira oleh-oleh dari sekolah. Biasanya dia bawa prakaryanya, kalo ngga playdough adonannya sendiri, kadang tanah liat dari bu gurunya, atau sekedar stamp kupu-kupu ditangannya dan stiker bintang dibuku stikernya.
Aku merunduk mencoba duduk sejajar dengannya. Hatiku masih gerimis, namun kupaksa juga mengulum senyum untuk Fathiyya. "Mana sesuatu untuk ummi?" Tanyaku, pura-pura antusias. Sepertinya bintang bersinar dibuku stikernya lagi nih yang mau dia perlihatkan.
Fathiyya merogoh tasnya daaan....
"Tarrraaaaa...Bunga buat ummi! Satu untuk ummi, satu untuk dede" Fathiyya menyodorkan setangkai kembang ilalang, yang dia namai bunga buat ummi. Subhanallah...Dede you're so sweet honey...Gerimis hati ini berganti pelangi indaaaah nian....
PS: Makasih ya sayang, it means a lot to ummee...
Akankah kau ingat momen ini saat kau besar nanti?
Thursday, June 19, 2008
Lelaki yang paling sering membuatku menangis...
Meski begitu intensitas aku menangis saat kecil kurasa tidak sehebat 4 tahun belakangan ini, saat aku sudah menjadi wanita dengan 2 orang anak.
Ku akui kedekatanku dengan ayah menguatkan satu sisi kepribadianku. Sebagai his only daughter, ikatan emosional kami begitu erat mungkin karena ayah begitu memanjakanku ( sampai sering membuat ibu cemburu, rival kuat nih mom piss he..he..)
Ayah begitu perkasa bagiku, lelaki hebat yang selalu ada untukku. Tak pernah kuingat ayah bisa marah padaku kecuali saat mengajariku mengaji (secara kelakuan anak kelas 3SD bawaannya pengen maen mulu).
Masih terkenang jelas saat ayah tak bisa menjadi wali nikahku karena ayah tersendat-sendat menangis karena bahagia. Terngiang jelas kata-kata ayah pada suamiku sebulan usai pernikahan, bahwa suamiku harus mampu menjagaku, karena sejak lahir aku dijaga untuk terjauh dari segala nestapa, begitu katanya.
Duhai ayahku, tak perlu kau katakan apapun setiap orang akan mampu membaca dimatamu, kau begitu sayang padaku, tak ingin aku terluka, tak ingin aku menangis.
Andai waktu dapat diputar kembali, aku akan minta pada Allah sehari saja lagi menjadi putri kecil ayahku. Ingin bermanja lagi dibahunya yang bidang, bergelantungan ditangannya yang kokoh, bercanda dan tertawa lagi bersama. Andai aku bisa...
Sungguh aku ingin dengan bangga mengenalkan ayahku pada anak-anakku sebagai lelaki hebat perkasa yang berhati pualam. Sayang, Stroke yang menyerang ayah 4,5 tahun lalu (tepat dua minggu sebelum aku melahirkan putri keduaku) telah melumpuhkan tangan dan kaki kanannya.
Alhamdulillah setelah empat setengah tahun berlalu ayah sudah mulai recovery, mulai bisa melakukan kegiatan bantu diri (makan, mandi dan berpakaian sendiri meski tangan dan kakinya tak kembali sempurna).
Meski begitu bagiku ayah tetap lelaki hebat itu, tak akan pernah berubah meski ayah pun tak sama lagi dengan yang dulu.Ayah yang perkasa telah kehilangan kepercayaan diri. Ayah lebih senang dirumah, sama sekali tak mau lagi bepergian. Ayah jadi lebih senang menyepi, sendiri ( bahkan saat putri semata wayangnya memohon agar ia ikut mengantarnya pindahan ke bandung, ia hanya menjawab dengan senyum. Tak bergeming.
Tentu saja itu menghancurkan perasaanku. Kami tinggal dikota yang berbeda, yang pastinya membatasi perjumpaan kami. Maka wajarlah jika setiap malam aku merinduinya, menangisinya. Bahkan bukan setiap malam saja, tapi setiap kusebut namanya aku akan langsung tersedu. Tak kuasa mengingati sorot matanya yang telah layu, yang memandangiku serta putra-putriku dengan air mata menggantung di pelupuk matanya. Seakan ingin berkata, "maafkan, ayah tak bisa apa-apa, tak bisa menjaga kalian seperti dulu."
Duhai ayah penjagaanmu masih terasa bagiku, bagi kami. Karena bukankah sebaik-baik penjaga adalah Allah, dan doa-doa ayah sejatinya telah menjadi perisai kami. Selamanya kami bangga pada ayah. Maafkan kami yang tak mampu membahagiakan ayah.
Father,
You were always there
To help me through
The rain and snow.
To stand by me
And hold my hand,
To give advice
And understand.
With hugs galore
And when in need,
A bunch of laughs
So good indeed.
You love me
Because I am your child.
Always eager and willing to be
The best father you can be.
Through my eyes, I clearly see
That you were always there
And you always will be.
a poem dedicated to a daughter's father whose love and care has enlightened a daughter's appreciation.
Growing up, I was fortunate enough to have a loving father who always supported me. With unfortunate occurrences, such as divorce or even death, many of my young childhood friends never had the privilege of having a typical father figure in their lives like I did. Often these children depended upon friends and others for personal support, but growing up without a father is especially tough. As I grew older, I learned to appreciate everything that my father had done for me, because it was hard work and devotion to put our family where we are today. Many children are inappreciative and must realize that it is not a right to have a loving father, but a privilege and an honor
episode#1 : Saat seorang ayah menangis ia seperti pohon tua dihantam badai
PS. Ayah jangan menangis lagi agar setiap kupanggil nama ayah akupun bisa tegar
Tuesday, May 6, 2008
Ketika Anak Menggugat
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Tapi kali ini Fathan tidak bergairah jadi imam shalat, dia nampak lemah lesu. Aku menawarkan diri menjadi imamnya kali ini. Fathan masih acuh tak acuh pada tawaranku. "kenapa sayang?" tanyaku, tergelitik pada sikapnya yang tidak biasa.
"Ummi kenapa sih abi sudah ga pernah pulang ke Cirebon lagi?" Fathan bertanya dengan nada sayu. Oooo ternyata Fathan masih memikirkan abinya. Ahad lalu juga dia terbangun lebih pagi karena berhalusinasi mendengar suara abinya di kamar mandi.
"Abi kan masih sibuk ka, tapi kaka kan bisa telpon setiap waktu" jawabku
"Emang gaji abi berapa sih Mi kerja di sana?"
"Emang kenapa ka?"
"Abi kerja disana jadi ga bisa pulang ke Cirebon, emang gajinya besar? Keluar aja deh Mi, cari kerja di tempat yang lain aja biar bisa pulang ke Cirebon. Ga papa gajinya kecil juga." Putraku merajuk,matanya mulai berkaca-kaca.
"Hmmm...ka..." aku mengatur nafasku, pernyataan putraku kali ini begitu menyesakkan dadaku. Kurangkul tubuhnya merapat padaku. Fathan duduk dipangkuanku, tertunduk lesu.
"Ka, abi kan bukan hanya bekerja, abi sedang berjuang. Untuk ummat, untuk Ummi, untuk kaka dan dede. Jadi bukan uang saja yang sedang dicari, lebih dari itu sayang. Kalau abi semakin giat berjuang,Allah akan semakin sayang sama abi, sama kaka dan dede. Semakin banyak juga pahalanya. Jadi semakin banyak pahala bisa nabung untuk dapet tiket masuk surga. Waaah nanti asyiiik deh kita semua masuk surga, ya kan ka???" jawabku mencoba menghiburnya.
" Tapi kan Mi kerja di tempat lain juga bisa dapet pahala...trus bisa pulang ke Cirebon juga," fathan menjawab masih dengan wajah tertunduk. Airmatanya jatuh satu-satu membasahi mukenaku. Duuuh Gusti...hik...hik....
"Ya sayang, tapi sekarang kata Allah mungkin yg terbaik Abi berjuangnya disana dulu. Lagian kan dua bulan lagi juga kita kan pindah ke Bandung. Insya Allah ga lama lagi kan kita kumpul lagi sama abi." Ku hapus air matanya dengan ujung mukenaku. Putriku ikut-ikutan berkaca-kaca. "Ummi, dede juga mau ikut ke Bandung, mau ketemu abi."
"Iya dong semua ikut ke Bandung. Sudah ah kaka jangan nangis lagi nanti dede sama ummi jadi ikutan nangis deeh. Sekarang kita sholat dulu yuk. Berdo'a untuk abi, ummi , untuk semuanya. Ayo kaka semangat!!! Masa jagoannya ummi dan abi nangis he..he.." aku coba mencairkan suasana, mengalihkan pembicaraan sebelum mata air di mataku puecaaaaaaaaaaah!!!!
Duhai hati...teguhlah!!!
PS: Mr.FZF...buku Mahasiswa Menggugat nya sudah ada yang nyaingin niiih...
Friday, April 11, 2008
Berakhir Penantian…sungguh berakhir penantian itu…
Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati (QS. Al-Ankabut (29):57)
Dalam hening malam baru tersadar pada judul postinganku semingguan lalu, Berakhir penantian: Nyelip diagenda Kampanye HaDe Pisan.Dalam postinganku itu sebenarnya hanya untuk mengingatkanku jadwal kampanye HaDe di Cirebon pada Ahad,
Sabtu 5 april, selepas subuh suami menelpon mengabarkan bahwa Epa, ayahanda kami meninggal dunia. Saat itu aku sempat shock karena sungguh aku masih menanti pertemuan dengan epa sekiranya lebaran nanti, berharap masih bertemu epa meski hanya untuk menatap matanya yang teduh. Suamiku terdengar lebih tegar mungkin karena seminggu lalu masih sempat bertemu bahkan ngobrol banyak dengan epa saat takziah meninggalnya mba fatimah.
Speechless, masih sesegukan aku meminta kali ini suamiku dapat memperjuangkan tiket pesawat untuk kami bertiga (karena minggu lalu kehabisan). Perjalanan kali ini begitu mendadak namun sungguh pertolongan Allah begitu dekat, Ia sesuai prasangka kita. Mulai dari Tiket kereta api hingga pesawat tidak ada kendala meski booking ticket semua dlm keadaan mepet, dan selalu pas tiket dapet pas mau jalan…(kebayang kan ngos-ngosannya…), bahkan sempat ketinggalan pesawat yang pertama (karena waktu 10 menit buat ambil boarding pass-nya dipake buat ngobrol dgn mantan Menperindag pas di depan loket Merpati nya!!! Abi tanggung jawab neh!!!
)
Ternyata berakhir penantian itu bukan di acara kampanyenya HaDe di Cirebon, namun di bandara juanda anak2 melepas rindunya ketemuan dengan abinya. Pelukan hangat bertubi-tubi nih untuk abi tercinta, padahal baru 16 hari ga ketemuannya sudah ala sinetronan gini pelukannya, gimana yang ga ketemuannya berbulan-bulan
Sampai di Branta, Madura, epa sudah dikebumikan. Kami hanya sempat ziarah ke makamnya. Menyusuri jalan berpasir putih menuju makam Epa ada yang menyesakkan dada, Epa yang tak pernah banyak bicara bagiku matanya penuh bercerita. Betapa ia tak meminta apapun dari kami anak-anaknya, cukuplah melihat semua anaknya bahagia menjadi obat bagi hatinya.
Gundukan makam Epa masih basah, namun pasirnya tetap begitu putih dan lembut (karena Branta dekat dengan laut, makamnya pun berpasir putih, pasir laut).Untuk pertama kalinya dalam hidupku pasir putih tak lagi berwarna indah yang ceria untuk bermandi matahari dan air laut, kini pasirputih bernuansa duka namun damai. Epa maafkan kami. Duhai Rabb ampunkan ia, sejahterakan dan hangatkan ia di alam kuburnya.
Allhummaghfirlahu, warhamhu wa’afiehi wa’fuanhu…
Epa, berakhir penantian itu…sungguh berakhir sudah penantian untuk pertemuan indah dengan Sang Rahman Rahiim….
*Berakhir penantian: nyelip di agenda Hade (Skenario Allah diatas Rencana manusia)