Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Friday, October 14, 2011

Lelaki sejati itu ...

Rating:★★★★★
Category:Other
Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada disebalik itu...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari jumlah tanggungjawab yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan...

Lelaki yang sejati bukanlah dilihat dari rajinnya membaca kitab suci, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca...

Happy milad lelaki sejatiku Fahrus Zaman Fadhly...Abu F3

Sunday, April 18, 2010

Perjuangan Mak Eros melahirkan 25 kali

Rating:★★★★★
Category:Other
Subhanallah..speechless rasanya melihat dan membaca tentang perjuangan beliau...

Liputan6.com, Purwakarta: Banyak anak banyak rejeki. Mungkin pepatah ini masih berlaku bagi Eros, warga Purwakarta, Jawa Barat. Perempuan berusia 58 tahun ini telah melahirkan hingga 25 kali.

Saat ditemui di rumahnya, Kampung Tegal Kalapa, Desa Citeko, Pleret, Jumat (9/4), Eros harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sembilan anaknya yang masih tinggal bersama dia.

Eros istri dari Asep yang berprofesi tukang becak mungkin luar biasa kemampuannya dalam hal melahirkan anak. Usai melahirkan, dirinya hanya butuh sehari untuk istirahat lalu beraktivitas seperti biasa.

Tak hanya itu, jarak anak-anaknya sangat rapat antara empat hingga enam bulan. Dari 25 putra dan putri yang dilahirkan Eros, hanya 18 yang bertahan hidup dan sembilan di antaranya sudah menikah.

Eros sebenarnya ingin mengikuti keluarga berencana karena repot mengurus anak banyak dengan penghasilan pas-pasan. Namun program keluarga berencana menurutnya terlalu mahal maka diapun memutuskan terus melahirkan.

Meski termasuk keluarga miskin, Eros tetap memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Saat berjualan makanan dengan sistem bagi hasil, dia menyempatkan diri pulang untuk memberi makan anaknya yang masih kecil.

Hidup ini pun dijalaninya dengan sabar dan tawakal karena bagi Eros anak-anak merupakan titipan Tuhan yang harus dipelihara

Friday, May 8, 2009

The Power of Being old

It's all about my life, my new life.

Tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benak ini, dibalik musibah dan cobaan-Nya Allah memberi takdir seindah ini...

Berawal pada 2 minggu lalu, Uwa 4 (Wa Fatimah, kakak sulung ayahku) harus cuci darah karena gagal ginjal. Saat itu aku ajak nenekku yang biasanya tinggal bersama Uwa 4, untuk tinggal bersamaku, mengingat kondisi kesehatan uwakku tidak memungkinkan lagi untuk merawat mimih (nenekku/ibunda ayahku). Alhamdulillah dari semua ajakan tante dan Omku, ternyata nenekku memilih ikut aku karena pertimbangan jarak rumah lebih dekat dan kamar mandi dirumahku pun terdekat dari kamar. Maklumlah usia beliau sudah masuk 85 tahun, dengan tubuh yg harus di topang tongkat kaki 4 tentu tidak bisa se-mobile yang  muda ya...   

Maka diboyonglah nenekku kerumahku. Sejak 2 minggu inilah hari-hari kami diisi kebersamaan dengan uyut, demikian anak-anakku memanggilnya.

Tanpa helper (c mba emang sdh 7 bulan absen), maka my kids semakin mandiri dengan kehadiran uyutnya. Fathan dengan kerelaannya menyiapkan kamarnya untuk uyutnya beserta kursi rodanya. Fathiyya pun sudah tidak terlalu 'baby ummi' banget, secara liat umminya dari pagi sudah asyik mandiin uyut dari pada mandiin Fathiya

Eeen hebatnya baru dihari ketiga uyut bersama kami, ludahku berangsur pulih pada kondisi normal. Aku yang tadinya meludah full 24 jam karena efek hormonal kehamilanku, ternyata bisa kembali normal seketika hanya dengan merawat uyut. Amazing!!! Subhanallah!!!

Sebelumnya aku akan langsung mual dan muntah kalau mencium bau nasi masak, tetapi karena uyut harus selalu makan nasi panas maka aku semakin sering menanak nasi. Begitupun bau wewangian musuhku yang biasanya akan memicu muntah, maka setiap memandikan dan mengeramasi rambut panjang uyut dikamar mandi depan yang wanginya dulu buatku aneh, sekarang bukan lagi musuhku.

Subhanallah...uyut kekuatanmu sungguh menguatkanku...

Alhamdulillah Rabb atas nikmat-Mu ini

Monday, February 16, 2009

Gadis berkaki bola basket

 

SEMOGA DAPAT MEMBERI INSPIRASI DAN SEMANGAT BARU

DAN MENGINGATKAN KITA UNTUK SELALU BERSYUKUR


Qian Hongyan mengalami kecelakaan dan kehilangan kedua kakinya bahkan pinggulnya, dan perlu mencari jalan keluar.


Keluarganya di Cina miskin dan tidak dapat membeli kaki palsu, maka ia menggunakan bola basket untuk memudahkan gerakannya. Qian Hongyan juga dikenal sbg Basket Ball Girl.



Qian menggunakan dua sangga kayu untuk menyeret tubuhnya dan tidak mengeluh, walau dia telah gonta ganti bola basket 6 kali.



ia tetap ke sekolah, walaupun harus bersusah payah ke sana .



Dan.. ia tetap tersenyum menyambut dunia



Dan.. ia tetap tersenyum menyambut dunia



Dan.. ia tetap tersenyum menyambut dunia



Setelah bbrp lama, Ada yang berbaik hati dan menyumbangkan kedua kaki palsu untuk Qian HongYan










Menghibur Teman Senasib dan .. Happy aja, Masih Tersenyum menyambut dunia ini..
Jangan menangis hanya karena tidak punya sandal,
sebelum melihat orang tidak punya kaki


Thursday, December 11, 2008

MP Writing Event: 2008, my dream comes true


2008, tahun momentum titik balik hidup kami, saya dan suami. Benarlah, manusia hanya berencana Allah Ta'ala yang menentukan. Sebaik-baik manusia berencana, tiada sesempurna skenario Allah.

Januari 2008
Tahun baru kali ini terasa hampa, libur akhir tahun pun bergulir begitu saja tanpa kesan. Padahal aku dan anak-anak menghabiskan liburan sesuai daftar rencana kami. Kami sempat kebeberapa tempat wisata diBandung namun berhubung suamiku tidak bisa mendampingi anak-anak, maka liburan tak seindah warna aslinya.

Tahun ini adalah tahun ketiga kami tinggal terpisah. Karena pekerjaan, maka aku harus tinggal di Cirebon bersama anak-anak, sedangkan suamiku di Bandung. Berat awalnya, karena yang tadinya ada suami mendampingi sekarang harus berjuang sendiri. Meskipun alat komunikasi sudah demikian canggihnya namun tetap saja tak bisa menggantikan sosok seorang suami yang senantiasa melindungi secara zahir maupun bathin. Meski komunikasi dengan anak-anak lancar tetap kehidupan jarak jauh tidak bisa memberikan kenyamanan yang utuh terutama untuk anak-anak.

Dulu sejak kecil Fathan terbiasa sholat berjama'ah ke majid dengan abi nya, hingga ia memasuki usia 5 tahun, shalat berjama'ah dengan abinya bukan hal yang langka. Sedangkan Fathiyya sejak usia 2 tahun sudah harus rela hanya berjama'ah dengan umminya, karena saat itu sudah harus berpisah dengan abinya. Menjadi makmum abinya adalah hal yang tidak murah bahkan termasuk peristiwa langka karena hanya bisa merasakan lagi nikmatnya shalat berjama'ah hanya saat weekend ketika abinya luang dan bisa pulang.

Ini sudah memasuki tahun ketiga long distance life, harusnya kami sudah terbiasa. Tapi ternyata tetap saja, aku maupun anak-anak tak pernah bisa terbiasa. Meski setiap malam via handphone, abinya biasa mengantar tidur anak-anak dengan do'a, namun tetap saja dipagi harinya dengan mata sendu mereka bertanya "kenapa sih mi, abi ga pindah aja kerjanya ke Cirebon? Atau ummi aja yang pindah ke Bandung?"

Ratusan kali pertanyaan itu mengusik kami. Bukan tanpa jawaban, namun ribuan kali kami jawab tak akan bisa melepas dahaga fitrah seorang anak yang haus kebersamaan orang tuanya.

Otonomi daerah dengan birokrasi panjangnya menyulitkanku sebagai PNS untuk mengajukan mutasi, sementara abinya dengan komitmen amanah pada pekerjaannya yang tidak sedikit, juga tidak memungkinkannya untuk pindah ke Cirebon. Maka disinilah kami terdampar, dalam ruang yang tak utuh lagi bagi anak-anak. Mungkin kami bukan satu-satunya keluarga dengan long distance life, masih banyak yang lain yang intensitas pertemuannya bahkan lebih rendah karena antar negara dan benua. Bahkan sahabat-sahabat karibku pun tidak sedikit yang menjalani long distance life. Dan mereka nampak kuat menjalaninya bahkan terbiasa. Namun kami bukan mereka, dan mungkin kami tak setegar mereka. Jika diwajah ini selalu ada senyum, hati ini sejatinya dilanda resah. Jika ada tawa dan canda mengisi hari, tetap airmata tak berkesudahan selalu mengisi akhir sujudku.

Tak jarang putraku yang memasuki usia 7 tahun kudapati menangis dibalik bantal gulingnya. Saat kutanya kenapa, dia hanya bilang kangen abinya. Duuuh gusti...Dzalim kah kami pada hati putihnya?
Kapankah kami bersatu lagi duhai Rabb??

Februari 2008
Weekend awal bulan abi bisa pulang, meski jadwal road show keliling Jawa Barat kala itu sangat padat. Akhirnya aku beranikan diri mengajukan keinginanku membeli rumah di Cirebon, agar anak-anak merasa homy disini meski tanpa abinya. Rumah di Bandung biarlah tempat peristirahatan kami jika berlibur, namun kupikir kami perlu sebuah rumah juga di Cirebon untuk mulai menata kembali hidup yang permanen. Selain itu daripada uangnya untuk kontrakan disini, akan lebih berbekas jika di 'tempel' menjadi sebuah rumah pribadi.

Waktu itu abi hanya tersenyum tanpa menolak ataupun mengiyakan keinginanku. Namun diluar dugaanku, ternyata abi punya keyakinan bahwa aku dan anak-anak akan kembali ke Bandung cepat atau lambat, aku hanya harus lebih bersabar begitu katanya. Kapankah itu? Wallahu'alam. Yang pasti seminggu kemudian abi mengabarkan ada sebuah perumahan baru lokasinya dekat rumah kami diBandung yang konsep rumahnya seperti yang ku idamkan. Aku dipertemukan dengan arsiteknya untuk mempertemukan ide bersama sebelum rumahnya dibangun. Walhasil bukan beli rumah diCirebon sebagaimana keinginanku, tapi malah beli lagi diBandung bahkan dekat dengan rumah sebelumnya. Aku tetap bersyukur atas semua ketetapan Allah saat itu, meskipun dalam hati ini nyaris tak berasa, bahagiakah atau kecewakah?

Namun fitrah kewanitaanku tetap berteriak "Heiloooo abi wake up, we are here in Cirebon!!! Why should we have another house in Bandung? Why abi? Why???"

Maret 2008
Abi, Suamiku, lelaki sederhana yang 'hanya' seorang putera dari seorang tukang kerupuk dari pesisir Branta ini memang senang bermimpi. Katanya, beranilah bermimpi karena keberanian itu melahirkan do'a, dan do'a yang ikhlas lekas menjadi nyata. Karenanya dunia mimpi dan dunia nyata laksana dua sisi mata uang tak terpisahkan.

Karena itu, setiap abi mewacanakan aku untuk mengajukan mutasi ke Bandung, aku langsung menjawab "Ah mimpi kali Bi, ini jaman otda (otonomi daerah) ummi sudah diingatkan BKD untuk mengabdi dulu minimal 5 tahun baru boleh mengajukan mutasi. Itupun belum tentu diterima dikota Bandung, bisa dilempar ke kabupaten atau Cimahi...Ah jangan mimpi deh bi nanti kecewa".

Namun dengan segenap keyakinan dan do'a, abi tetap mendorongku untuk berani bermimpi. Kadang abi membumbui support-nya dengan mengingatkanku "Dulu nikahin ummi juga awalnya bermimpi, bisa ga ya memperistri ketua keputrian yang satu ini he..He..."
Ah abi bisa aja ya!

Hingga satu malam aku mendadak demam tinggi disertai muntah-muntah dan pening. Waktu itu aku selesai rapat, baru pulang jam 5 sore dan semakin malam kondisiku semakin memburuk. Pembantu rumahku saat itu sudah pulang karena memang hanya part time bekerja. Tinggallah aku dan kedua buah hatiku. Mungkin aku keracunan makanan hingga demam disertai muntah berkepanjangan hingga hampir kehabisan cairan. Aku harus merangkak sendiri kekamar mandi, berusaha untuk tidak jatuh pingsan mengingat anak-anakku masih kecil dan rumah serta kendaraan belum terkunci. Tapi malam itu aku sungguh tak berdaya, setengah sadar kudengar putri kecilku menangisiku. Setengah hati kuminta Fathan membuatkanku secangkir teh manis agar aku bertenaga dan tetap terjaga. Subhanallah, putraku tidak hanya menjerang air panas untukku diapun berinisiatif menelpon abinya. Dibawah petunjuk abi putraku yang masih duduk di kelas 2 SD kala itu, tidak saja merawatku, tapi juga mengamankan rumah dengan cermat. Dia tutup dan kunci jendela, pintu rumah maupun kendaraan. Dia nyalakan lampu-lampu, dia tenangkan adiknya yang masih berumur 3thn. Dia balur tubuhku dengan minyak gosok sambil terus mengajakku bicara (agar aku tak hilang kesadaran). Subhanallah, sungguh pertolongan Allah Maha dekat melalui tangan kecil puteraku.

Sejak peristiwa itu, keberanianku tidak hanya untuk bermimpi. Tapi segera mewujudkan mimpi itu kedunia nyata. Mimpi untuk bersatu lagi dengan sang abi harus mulai dengan ikhtiar. Rasanya lelah sudah berkesendirian selama 3 tahun. Lelah berpikir sendiri saat anak-anak bertanya ini itu. Lelah, mencemaskan jika anak-anak sakit. Lelah, menghalau trauma sendiri disatroni maling dipagi buta. Lelah, mencemaskan ketukan pintu tamu tak diundang. Lelah, menahan malu saat menunggui Fathan jum'atan dipinggir masjid, atau saat diprasangkai sebagai istri simpanan pejabat, karena beranak tapi suaminya hampir tak pernah keliatan. Lelah....Aku dipuncak lelah.

April 2008
Awal bulan ini ada rotasi kepala sekolah ditempat kerjaku. Pergantian pimpinan baru ini menjadi awal my dream comes true. Ku ajukan permohonan mutasi, ternyata langsung di ACC.
No high expectation sebenarnya, secara birokrasi selanjutnya masih panjang. Namun diiringi do'a, kumulai meng-ikhtiari mimpi untuk menjadi nyata. Bismillah, secara prosedur ku jalani tahap demi tahap proses mutasi nan panjang ini sebagaimana air mengalir, flow....Slow....


Juli 2008
Memasuki bulan Juli, abi menghadiahiku sepucuk surat ditangannya. Sebuah SK Gubernur Jawa Barat, yang menyatakan aku resmi sebagai pegawai negeri sipil kota Bandung. Sujud syukur kami atas rahmat dan kasih sayang yang Allah limpahkan pada kami. Pertengahan Juli, usai pembagian buku report kenaikan kelas, ditandai farewell party dari tempat kerjaku di Cirebon, kami resmi boyongan ke rumah idaman di Bandung. 


Desember 2008
Saat matahari bergulir ke peraduan, langit jingga menyapa mesra. Adzan maghrib sayup-sayup kudengar, diikuti gemericik air wudhu. Anak-anakku berlomba menjadi yang pertama berbaris sebagai makmum abinya. Subhanallah sholat berjama'ah dengan imam rumah ini tak lagi menjadi peristiwa langka dan mahal. Tak terasa sudah memasuki bulan ke-enam kami berkumpul kembali sebagai satu keluarga yang utuh, namun rasanya baru kemarin kami bermimpi. Bermimpi menjadi keluarga yang utuh lagi. Subhanallah Inna ma'al ushri yushro...Sungguh sesudah kesulitan ada kemudahan, dan nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan??.

Menyongsong 2009, semoga kebersamaan ini membawa barokah bagi kehidupan kami serta manfaat bagi ummat. Amiin

PS: Thanks to mba yuli yang punya hajat writing event nya http://ezrakarundeng.multiply.com/journal/item/282

Saturday, November 1, 2008

blog=perahu kertas?


"Seperti membuat perahu kertas & mengalirkannya ke air dilautan, tanpa beban atas pendapat orang, suka atau tidak suka " (Darwis Tere Live). Begitulah analogi sebuah blog.

Meski aku tidak menolak pendapat Mr.Live diatas ,namun untuk mengamininya pun rasanya kok terlalu sporadis.

Benarkah membuat blog (menuangkan ide, cerita, foto, hingga mengomentari) seperti membuat perahu kertas & mengalirkannya ke air dilautan, tanpa beban atas pendapat orang, suka atau tidak suka?

Mungkin ya, ia ibarat perahu kertas diatas lautan yang kadang timbul tenggelam, bahkan karam didasar lautan manakala tak seorangpun menoleh pada perahu kertas tersebut.

Namun jika ia seorang Muslim maka ia tidak akan berlaku dzalim pada lautan. Perahu kertas tidak akan ia isi dengan setetes minyakpun, agar lautan terjaga fitrohnya. Maka benarkah tak perlu peduli pada pandangan orang, suka atau tidak suka? Pandangan manusia mungkin tak perlu dihiraukan, namun diatas semua itu ada mata Sang Khalik yang tak pernah tidur. Ada ribuan malaikat bersiap mencatat bagaimana dan darimana perahu kertas itu berlayar. Maka bersiaplah pada yaumul hisab, setiap lisan yang tertulis di blog tentu akan diminta pertanggung jawaban. Jika ia menjadi maslahat bagi ummat maka tentu menjadi tabungan untuk membangun rumah di jannah, namun sebaliknya jika ia membawa mudharat maka tak akan luput dari perhitungan Allah, meski sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta penerima tobat.

Wallahu alam bishawab.

Thursday, October 30, 2008

1001 alasan membuat blog, 1 untukmu...

Rating:★
Category:Other
"Ummi buat apa bikin blog?" Tanya putraku

Setiap orang tentu punya alasan sendiri mengapa memutuskan memiliki blog, membuka satu ruang hidup didunia maya, membuat jejak didunia virtual. Ada yang membuat blog sebagai aktualisasi diri , ada yang menjadikannya armada bisnis, media pamer(an)/show room, media dakwah, media curhat, media sosialisasi (berteman, bersahabat, dst) , bahkan ada yang menjadikan blog sebagai BANK (media penyimpanan dokumen) maupun media trashing (pelemparan sampah otak).



Suatu ketika pernah kubaca postingan link site nya Londo Ireng, may Allah bless him n his 4 kids dari dek Fathia Raenad. Bang Londo ini sempat koma di RS.Elizabeth Singapura karena kecelakaan di tol Semarang. Dalam koma itu putranya yang sulung mencurahkan segala kesedihannya sebagai sulung dari 4 bersaudara yang telah piatu (umminya meninggal dunia), sedang abinya (bang Londo) terkapar tak berdaya.


Dan beberapa bulan lalu, saat "surfing bebas" menemukan homesite nya almarhumah bunda inong , beliau telah berpulang September tahun lalu. Membaca tulisan-tulisan sederhana beliau membuatku menangis lagi. Bahkan seorang ikhwan di Singapura membuat link site dan testimony tentang beliau: "Bacalah tulisan beliau...Beliau telah pulang ke Rahmatullah..Ketika aku membaca ceritanya mata aku berkaca-kaca....Walaupun aku tidak mengenali beliau..Ternyata dalam tulisannya beliau seorang ibu dan isteri penyayang..."(Bin abu bakar).


Banyak hikmah dari keduanya.

Dari "rumah" multiply nya, Arie, putra Bang Londo menyampaikan pada dunia tentang kerinduannya pada sang abi, tentang munajatnya memohon kesembuhan abi tercinta, dan Subhanallah...Puluhan comment menghampiri, doa pun mengalir dari sahabat-sahabat maya Bang Londo....

Begitupun dengan Almarhumah Bunda Inong, kepergiannya meninggalkan cinta yang terus mengalir dari blogspot nya. Puluhan visitor menyatakan kekaguman atas tulisan-tulisan beliau yang menginspirasi serta memotivasi. Tulisannya menjadi salah satu bukti kasih sayang yang mengalir deras pada Zidan dan Syifa, kedua buah hatinya.

Subhanallah kekuatan sebuah ruang di dunia maya telah memberikan kontribusi besar bagi jiwa yang hidup didunia nyata.

Karenanya kalau putraku bertanya buat apa blog ini? Jawabnya sebagai HERITAGE untuk kalian wahai anak-anakku. Usia manusia rahasia Allah, maka jika usiaku telah sampai waktunya perjumpaan dengan kekasih sejati, Allah Yang Rahmaan Rahiim, Rumah pelangi ini mencatat sejarah kasih sayangku pada kalian.

Momen-momen manis bersama kalian, perjalanan tentang kalian, pun perjalanan mimpi serta gagasanku tersusun rapi dalam rak-rak di Rumah pelangi ini.Bahkan sahabat-sahabat yang kumiliki di Rumah pelangi ini hakikatnya adalah sahabat bagi kalian. Yang pada mereka kelak ku titip putra-putri ku untuk belajar tentang kehidupan meniti Siratal Mustaqim.

Kelak tiba masanya, jika habis masaku didunia, Rumah pelangi menjadi rumah kalian yang hangat, yang padanya kalian dapat menemukan ku sebagaimana aku apa adanya. Jika kalian menjadikan Rumah pelangi sebagai rumah dakwah yang didalamnya terdapat ilmu yang bermanfaat maka Insya Allah mengalirlah amalan sholeh bagi ku juga bagi kalian. Namun sebaliknya, jika saat aku menanti hari akhir dialam kubur kelak, kalian menjadikan rumah ini tempat sia-sia maka menangislah aku dalam siksa-Nya, Naudzubillahi min dzalik.

Terlepas dari kehidupan kalian di dunia nyata maupun didunia maya ini, ada kehidupan di kampung akhirat yang menanti kita. Sudah cukupkah bekal kita untuk membangun rumah yang indah di kampung akhirat kelak?

Tidak ada lagi warisan terbaik untuk kalian, selain Al-Quran. Seluruh kekayaan, kepandaian, ketampanan maupun kecantikan adalah milik Allah. Kalian pun milik Allah yang akan diperkarakan dan dimintai pertanggungjawaban. Karenanya peluk Islam erat-erat, jadikan Quran sebagai panduan hingga perjumpaan di kampung akhirat kelak.

PS: Fathan,semoga pertanyaanmu terjawab sudah. So bantu perahu kertas ummi berlayar hingga sampai ke pantai ya sayang *)

Ada yang punya alasan lain???



Merpati tak pernah ingkar janji, akur selamanya ya sayaaaaang....




Kenapa ya sibling punya kecenderungan beranteeem melulu, ga laki ga perempuan, ga yang tua ga yang muda sammmaaa ajah susah mengalah!

Sehari kan hanya 24jam, mbok ya dipake yang manfaat, yang damai, yang akur gituh de, kak...naaah kayak acara maen sepeda ini, satu sepeda kan bisa berdua boncengan, simpen dulu sepeda ade, ikut mbonceng sama kakak...jangan dikit-dikit berantem rebutan donat lah, Leggo's lah
(padahal sdh ada jatah masing2 loh!), rebutan remote lah, rebutan abi juga...haduuuuh....

Kakak, Dede Peace honey....^_^

Tuesday, October 28, 2008

Menikahi anak 7thn, sunnah Rasul atau pedofilia?

Gunjang-ganjing berita tentang syekh Puji yang menikahi gadis 12 thn, 9 th dan 7 thn sebagai isteri ke 2,3 dan 4 itu mampir ditelingaku siang tadi. Apalagi waktu pak Wakasek sekolahku ikut-ikutan minta aku confirm berita lengkapnya ke mbah Google. Secara berita terakhir syekh ini kabur ke Singapore manakala didatangi Komisi Perlindungan Anak. Waaah kisruh ruang guru, ibu-ibu guru puanassss +(

Pujiono Cahyo Widianto, kiai kaya pemilik pondok pesantren Miftakhul Jannah di Semarang ini telah mempunyai 2 orang istri (salah seorang berumur 12 tahun), Tragisnya, pria 43 tahun itu berniat menambah istri yang lebih muda yakni 9 dan 7 tahun, astaghfirullah al azim!!

Syekh Puji beralasan punya dasar agama untuk menikahi Ulfa dan dua bocah ingusan yang masih duduk di sekolah dasar itu. “Saya punya dasar agama juga. Nggak ngawur,” kata Syekh Puji saat dihubungi detikcom, Kamis (23/10/2008). Sekadar diketahui, kiai kaya di Semarang yang dikenal dengan sebutan Syekh Puji mengaku menikah siri dengan Lutfiana Ulfa, bocah 12 tahun. Gadis yang dinikahi secara siri itu dijadikan general manager di salah satu perusahaan milik sang Syekh.


Bagaimana pendapat dari sisi medis mengenai aksi kyai pedofilia ini? Direktur RS Puri Cinere dr Winahyo Hardjoprakoso Sp OG menganggap perilaku itu kejam. “Kok kejam banget nikah sama anak kecil. Itu kan vaginanya masih kecil. Kalau dimasukin penis dewasa bisa rusak,” katanya kepada detikcom, Kamis (23/10/2008).

Winahyo mengatakan, meski sudah mendapat menstruasi, seorang perempuan belum bisa dikatakan dewasa dan siap untuk menikah. Datang bulan, hanya salah satu rangkaian dari siklus reproduksi. “Saya pikir dari segi fisik dia masih belum siap. Fungsi reproduksinya belum sempurna,” katanya.
Selain secara fisik, menuruh Winahyo, perempuan berusia sekecil itu juga belum matang secara emosional. “Dia belum siap punya anak. Kan usia itu masih bermain- main,” tandasnya.
Winahyo mengatakan, seorang perempuan dikatakan siap secara fisik, hormonal dan emosional untuk menikah di atas 18 tahun

Lalu bagaimana hukum kita memandang tindakan kyai ini?
Apakah RUU Pornografi telah cukup untuk mengakomodasi kasus sejenis ini? Syeh Puji dan istri keduanya itu bisa diancam penjara 4 tahun karena melanggar KUHP, dalam pasal 288 KUHP ada larangan menikahi anak di bawah umur karena belum dewasa,” kata ahli hukum pidana Universitas Indonesia (UI) Rudi Satrio. Pasal 288 ayat 1 KUHP menyatakan, barangsiapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin , apabila perbuatan itu mengakibatkan luka- luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.


Lalu bagaimana pandangan Islam memandang kasus pernikahan di bawah umur merujuk pada pernikahan Nabi Muhammad SAW? Masya Allah ternyata Syekh Puji mengatakan, hanya mengikuti ajaran Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah saat berumur 7 tahun. Namun Rasulullah tidak ‘mencampuri’ Aisyah hingga si gadis akil baliq. Syekh Puji pun tidak akan ‘mencampuri’ istri- istrinya yang belum akil baliq.
“Saya sesuai ajaran kanjeng nabi. Kalau yang namanya menikah dengan umurnya 7 tahun boleh saja. Kalau urusan campur setelah dia mens,” ujarnya. Menurut Syekh, Lutfiana Ulfa sudah akil baliq yang ditandai dengan datangnya siklus bulanan haid. Sedangkan dua bocah lainnya belum haid. “Ulfa sudah mens. Yang dua belum mens. Belum boleh (dicampuri),” imbuhnya.


Bagaimana mungkin ia mengatasnamakan Islam dalam kasus pernikahan tersebut? Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Walaupun tidak cukup jelas yang dimaksud dengan Aisyah sebagai “bikr” adalah gadis dibawah umur atau gadis remaja (yang penting masih gadis/ perawan). Tetapi pada masa itu Aisyah sebagai gadis Arab belia sangat berbeda kondisinya dengan anak perempuan di Indonesia, baik dari sisi pendidikan (Aisyah r.A tentu sudah dididik ayahnya dengan kekuatan iman), kebudayaan, maupun postur tubuh.

Dan saya mensarikan serta menulis berita ini dibantu mbah Google dengan tangan gemetar. Saya hanya seorang ibu biasa, yang diamanahi juga seorang putri. Terbayang seandainya putri kecil saya yang dipinang....Duuuh Rabbana...

Wallahu"alam Bish Shawab

Sunday, October 26, 2008

Mengukur diri, depresikah anda?

Rating:★★★
Category:Other
Pandanglah gambar disamping, lalu uji diri termasuk orang depresikah anda?

Masih ingat kasus ibu yang membunuh anak, atau anak SD yang bunuh diri? Fenomena itu menunjukkan kebenaran data bahwa jumlah orang stress dan depresi di Indonesia meningkat tajam tahun ini. Mungkin anda salah satunya.

Perhatikan dengan seksama beberapa detik gambar tersebut di atas.

Apakah anda mendapatkan kesan bahwa gambar bergoyang membentuk sebuah gelombang ataukah gambar tersebut diam statis. Jika bergelombang, maka konon anda sedikit depresi. Makin cepat anda melihat gelombang dalam gambar tersebut, makin dalam depresi yang sedang anda alami. Maka stop bekerja di depan komputer, tinggalkan sejenak rutinitas anda, berjalan-jalanlah sejenak dan lakukan aktivitas yang menjadi hobby anda seminggu sekali, perbaiki sholat anda, perbanyak dzikir dan rileks.

Wednesday, October 22, 2008

Akhirnya....

Pecat...jangan...pecat...jangan???

Duuuh ni jadi dilematis banget secara ga berpengalaman mem-PHK orang. Sudah masuk minggu ke-3 sejak suamiku memutuskan untuk pakai supir karena kesibukannya juga kemepetan jadwal ngajarku yang tidak bisa stand by antar jemput anak-anakku.

Sopir kami ini memenuhi "hampir" seluruh standar sopir teladan:
1. Selalu berpenampilan rapi
2. Selalu on time
3. Jujur (secara kalo isi bensin selalu pake bon n uang kembalian utuh)
4. Bisa bawa mobil keluar kota dengan aman
5. Good Mapping, tau seluk beluk peta JABAR terutama Bandung
6.Humoris, nge-blend dengan anak-anakku
Tapi meski sederet "keteladanan" itu berlaku, ada dua hal yang uncompromised, n I would never stopped complaining: Mr.Driver tidak sholat n bukan muhrimku.

Maka hilanglah seluruh keteladanannya, berganti Jadi Mr.Driver "telatdan" (telat adzan)



So, selama 3 minggu ini setiap harinya wajahku penuh kekhawatiran, ga ridho gituh dengan kehadirannya. I cant stop worrying my girl, setiap habis dijemputnya aku jadi macem paranoid nanya-nanya tentang ngapain ajah dimobil, ngobrolin apa ajah, bahkan stupid question seperti "did he touch u honey?" halaaaagh Fathiyya, bocah 4 tahun ditanya gitu jawabnya bengong dooong!

Belum lagi kalo jumatan aku ga pernah berhenti deg-degan khawatir putraku mendapati dia tidak sholat lalu dia akan mempertanyakan ummi n abi nya kok bisa mempercayakan anaknya pada orang yang tidak sholat "How come ummieee, how could you abieeee!!"

Belum lagi kalo aku kepepet ga pake motor ke sekolah n kepaksa diantar Mr.Driver, sedangkan anak-anak sudah diantar kesekolah semua, maka tinggal kami berdua saja di dalam mobil hwaaaaa!!No Way!!

Duuuh....Rabbana putuskan yang terbaik buat kami.
Akhirnya melalui perundingan yang panjang nan alot dengan suami, kami sepakat menyudahi dilema Mr.Driver "telatdan" ini. Meski berat juga mengingat jadwal sekolah dan les anak-anak belum sinkron dengan jadwal emak-babehnye, juga mengingat Mr.Driver "telatdan" ini sedang menabung untuk pernikahannya. Namun tetap harus diakhiri dengan baik untuk masa depan kami yang lebih baik tentunya. Akhirnya...Fuiiiih.....

Khadimatku sayang, khadimatku malang

Setelah gonta-ganti khadimat 5 kali dalam 6 bulan akhirnya Allah mengirimkan seorang khadimat yang baik hati untuk anak-anakku. Mba Neng, begitu biasanya anak-anakku memanggilnya. Tahun ini Mba Neng genap sudah 3 tahun bersama kami, dan anak-anakku sudah dekat secara emosional dengannya. Rekor lah bagi riwayat pencarian khadimat di keluargaku.

Meski anak-anakku sudah dekat dengan c mba, tetap saja porsinya hanya membantuku. Kalau umminya sudah dirumah maka anak-anak akan tetap minta "diladeni" umminya. Dan tentu saja aku senang dengan boarder yang mereka buat sendiri, meski kadang bikin "mumet" juga (secara dikit2 c dede merajuk "aku mau mandi sama
ummi ajah...aku mau ini dengan ummi...mau itu sama ummi...).

Waktu yang 3 tahun itu ternyata cukup membuat kami nge-blend, macem juice strawberry + yoghurt yang masuk blender n dihidangkan dingin di bawah teriknya matahari hmm...yummy! Tapi selain yummy ada rasa asemnya juga tho secara isi kepala n background yang berbeda. Mba Neng yang berpendidikan SD dengan riwayat sebagai single parent ditinggal suami yang kabur, cukup menempa jiwanya yang lugu menjadi pribadi kokoh namun rentan trauma. Pernah c mba cemas nanya-nanya tentang suamiku yang ga pulang 3 hari khawatir suamiku selingkuh (halaaaagh mba traumanya jangan ditularin donk!).

Alhamdulillah c mba ni jadi rajin baca-baca buku di library miniku sejak Fathiyya bisa baca n keranjingan baca. Trus jadi suka nanya ini itu macem anak-anakku juga. Pernah bertanya tentang menopouse sakit ato tidak (halaaaagh daku belum berpengalaman nih mba ;), juga pernah minta dibelikan ini itu secara c mba abis baca buku resep en pengen praktek.

Trus sangking sudah nge-blend c mba sudah mulai masuk daerah regulasi. Pernah bikin aturan di kamar mandiku, "Bath Tub Tidak Boleh Kosong!" Nah lo! Maksoednye?

"Bu kata orang tua dulu kalo dirumah ada kamar mandi tidur (bath tub maksudnya) ga boleh kosong airnya, jadi kalau ibu sudah mandi diisi lagi bu sedikit aja yang penting ga kosong",Mba Neng memberikan penjelasan padaku tentang aturan barunya. Hwaaaa!!! Daku bengong dong...
"Loh mba orang tua dulu yang mana yang bilang gitu?" tanyaku waktu itu hati-hati.
C mba jadi balik bengong..."Eh anu bu takut ada yang tidur bu di kamar mandi tidurnya ibu"
Oalaaaa mbaaaa........+(

Meski begitu c mba nih kalo dapet ilmu baru dengan referensi yang shahih (Quran, hadits maupun teori2 dari buku) biasanya cepet nerima, jadi bath tub case has closed fully smile and success he..he..

Ahad kemarin c mba ditelpon anaknya yang sudah SMA di Cirebon, mengabarkan dirinya sakit. Waktu itu anaknya minta aku mengijinkan c mba pulang untuk merawat dirinya. Tentu saja aku n suami mengijinkan, tapi yang aneh justru c mba nya yang ga mau pulang. "Malu, karena baru dikasih libur lebaran yang panjang" begitu alasannya. Wadduuuuh rek pie tho mba!! Akhirnya hasil bujuk rayu c mba mau pulang juga.

Sudah 3 hari tanpa c mba maupun Mr.Driver telatdan ternyata rumah n kedua bocah ku masih aman terkendali he...he....(ya iyyalaaaah wong sudah ada uncle Rama memenuhi panggilan daruratku he..he...)

PS: thanks ya mba Neng sudah jadi bagian dari hari-hari kami,semoga Allah memudahkan segala urusan mba didunia maupun akhirat nanti, en thanks to uncle rama for being my kids hero, my private driver n of course my sweetest brother ;-P .