Showing posts with label sadstory. Show all posts
Showing posts with label sadstory. Show all posts

Saturday, April 17, 2010

Satu Episode yang Menyisakan Airmata dan Senyum...

      Setelah 45 hari bergulat dengan virus HSP dan disentry amoeba, Kaka Fathan, my sun baru 10 hari ini kesehatannya berangsur pulih kembali, Alhamdulillah. Dan mudah-mudahan sakitnya tidak datang lagi, Insya Allah. Baru 10 hari ini kami bisa tidur cukup tenang tanpa mendengar jerit tangis kaka Fathan yang kesakitan. Hati ini terasa lega, bahagia melihatnya kembali ceria. Satu epsode kehidupan telah kami lalui,masih terkenang suka dukanya bolak-balik RSHS & RS Hermina Arcamanik.

Selama kaka Fathan dirawat di RS, setiap pagi aku sudah meninggalkan baby Falisya dan

yayu Fathiyya dengan Teteh pengasuhnya. Baru jam 6 atau 7 malam aku pulang kerumah, karena giliran sang Abi yang jaga malam di RS. Selama bolak-balik RS itu tak terperi betapa sakitnya hari-hari yang kami jalani. Menyakitkan bukan saja untuk Fathan yang sedang sakit, tapi juga untuk Falisya dan Fathiyya yang harus menerima kehadiran umminya dimalam hari saja & abinya di paruh siang hari saja . Dan pastinya menyakitkan juga untuk ummi dan abinya. Untukku pada episode ini  paling menyakitkan melihat kaka Fathan kesakitan, dan menahan nyeri karena ASI yang tidak diberikan selama aku di RS. Meski dirawat diruang VIP, dan sudah negosiasi dengan pihak RS, baby tetap tidak boleh masuk ya...menyedihkan hik..hik...(andai saja...andai.. ). Maka selama di RS selalunya ingat Fathiyya dan Falisya, sampai dirumah selalunya ingat Fathan...Alhamdulillah Allah Sang penjaga raga dan hati ini senantiasa menguatkanku menjalani episode itu.

Setelah episode di RS berlalu ternyata menyisakan airmata panjang bagi baby Falisya...ada trauma ditinggal umminya. Sejak lahir Falisya memang tak pernah lama jauh dari umminya. Lepas cuti bersalin Falisya hanya ditinggal jika aku ngajar saja, 2-4jam saja. Bahkan beberapa kali acara rapat Falisya selalu ikut. Karenanya ketika aku harus jaga Fathan di RS 10-12jam sehari rasanya menjadi

nightmare bagi kami. Meski kakanya sudah sehat dan aktivitasku kembali normal seperti semula lagi, ternyata tetap menyisakan trauma mendalam bagi my baby. Sejak itu baby Falisya takut melihat orang baru, tidak mau digendong orang lain selain dengan ummi dan teteh pengasuhnya.

Bukan itu saja, gaya menangis Falisya pun berubah. Tangisannya selalu mreraung-raung. Sebelumnya Falisya adalah bayi yang tenang, tangisannya jarang membuat gaduh. Tangisan baby adalah bahasa komunikasi. Karena itu kami memahami jika sekarang Falisya menangis dengan gaya berteriak sampai serak, seakan ia ingin teriak, “hey don’t leave me...!” Dan sekarang tangisan itu baru terhenti jika langsung mendapat pelukan erat ummi atau abinya. Pelukan erat seakan takkan pernah melepaskannya lagi, pelukan yang menyampaikan pesan: ‘ here we are honey, you’r save’. Lalu mata bening Falisya akan memandangi mata kami, membalas senyum kami dengan senyumannya yang meluluh lantakan hati ini....dari senyumnya kami tahu Allah ArRahiim pun tersenyum juga pada kami...indahnya...

Allah begitu sayangnya pada kami, memberi lebih banyak dari yang kami minta, Alhamdulillah. Maka malu rasanya jika hingga detik ini kami masih tak pandai bersyukur, mensyukuri setiap nikmat, setiap ujian, setiap tetes airmata yang jatuh...Subhanallah..Alhamdulillah.

Wednesday, March 10, 2010

No more sunshine from My sun

Sejak Sabtu malam yang lalu Fathan harus terbaring di rumah sakit dengan sakit di perut yang terus melilit hingga hari ini. Sedihnya hati ini, andai bisa kugantikan tempatnya...duhai Rabb yang Maha Pengasih cabutlah rasa sakitnya...

Kemarin Fathan pertama kalinya bisa tersenyum, bahkan bercanda dengan umminya, keep online untuk browsing and up date soccer news  kesukaannya. Sempat juga Fathan merakit magic kinderjoynya.

Tapi hari ini Fathan kesakitan lagi...no more smile ....hik...hik....

Mohon do'a ya....

 

Tuesday, July 14, 2009

Shocking but enlighting moment...

Liburan sekolah 2 minggu lalu sebenarnya sudah dipersiapkan kursus merancang komik untuk fathan dan kursus menggambar untuk fathiyya selama full masa liburan mereka. Selain karena mereka memang sudah lama ingin mendalami bidang ini, juga karena liburan kali ini mereka bertoleransi pada umminya yang sedang hamil besar. Jadi dengan kursus tersebut mereka sudah cukup sibuk setiap harinya berkutat dengan tugas dari tempat kursus tanpa perlu berlibur kesana-kesini, rencananya. Tapi Allah berkehendak lain, selain kedatangan saudara mara dari madura, kami juga kedatangan ayah ibu alias nenek kakeknya Fathan n Fathiyya dari Cirebon sepanjang liburan ini. Alhasil hampir tiap hari kita jadi guide jalan-jalan mulai dari mall dibandung, cinema, tangkuban perahu sampe sari ater.

Happy siih..happy banget tapi ternyata berbuah ujian untuk umminya. Perdarahan pun tak terelakkan...placenta turun kata dokter, mungkin karena terlalu happy ..eeeh terlalu cape 

Aku harus bedrest total...ga boleh ngapa-ngapain lagi. Alhamdulillah kontraksi tidak disertai pembukaan sehingga baby bisa dipertahankan untuk tidak lahir prematur (menurut USG masih 1,5 kg di usia 30 minggu kemarin).

Ternyata lepas perdarahan, 3 hari kemudian kurasakan sakit luarbiasa seperti sakitnya luka jahitan setelah persalinan dulu. Ternyata kata dokter ada infeksi mulut rahim juga. Dalam sakit aku berharap semoga Allah menurunkan sakit ini untuk meringankan sakit persalinan nanti,dan memudahkan proses persalinan nanti,  sang abi ikut mengaminkan

Kali ini dokter panjang lebar menguraikan kondisi tubuhku yang melemah karena persiapan tubuhku sebelum hamil dibawah standar sehat calon ibu hamil (sebelum hamil aku memang hanya 39kg, mustinya aku program menaikkan berat badan dulu sebelum hamil kata dokter). Maka meskipun aku punya 2 pengalaman hamil dan melahirkan yang mengasyikkan bukan berarti kehamilan kali ini bisa disamakan. Kali ini aku sudah memasuki kehamilan beresiko tinggi, begitu katanya. Maka aku harus rajin  melakukan gerakan senam hamil dirumah dibarengi asupan gizi 2x lipat lebih dari biasanya hmmm...bismillah...setelah konsultasi dokter yang bikin shocking tapi juga menyadarkan bahwa selama ini aku lalai ya menjaga amanah tubuh ini agar tetap sehat...maafkan ummi ya baby sayaaang...

 

Rasulullah saw bersabda:
“…Tak ada seorangpun perempuan yang hamil dari suaminya, kecuali ia berada dalam naungan Allah azza wa jalla, sampai ia merasakan sakit karena melahirkan, dan setiap rasa sakit yang ia rasakan pahalanya seperti memerdekakan seorang budak yang mukmin. Jika ia telah melahirkan anaknya dan menyusuinya, maka tak ada setetes pun air susu yang diisap oleh anaknya kecuali ia akan menjadi cahaya yang memancar di hadapannya kelak di hari kiamat, yang menakjubkan setiap orang yang melihatnya dari umat terdahulu hingga yang belakangan. Selain itu ia dicatat sebagai seorang yang berpuasa, dan sekiranya puasa itu tanpa berbuka niscaya pahalanya dicatat seperti pahala puasa dan qiyamul layl sepanjang masa. Ketika ia menyapih anaknya Allah Yang Maha Agung sebutan-Nya berfirman: ‘Wahai perempuan, Aku telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu, maka perbaruilah amalmu’.” (Mustadrak Al-Wasail 2: bab 47, hlm 623)

Friday, November 28, 2008

Peluk mereka duhai Kekasih...

Rating:
Category:Other



"kematian (sakaratul maut) adalah kafarat bagi setiap muslim"
(HR Abu Nu'aim dari Anas bin Malik).
dalam penjelasan selanjutnya, berbahagialah orang yang mengalami
sakit ketika sakaratul maut, karena itu menjadi kafarat bagi
dirinya hingga ia akan kembali dalam keadaan bersih (tidak berdosa)
isyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. Kematian itu datang sebelum (seseorang) bertemu Allah.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Sunday, September 28, 2008

Nonton Laskar Pelangi, air mata untuk sebuah asa

Setelah baca koran kemarin pagi tentang Pak Gubernur Jabar yang nonton Laskar Pelangi dengan para guru, Putraku merengek minta nonton Laskar Pelangi. Pake nangis-nangis segala mana ini hari minggu lagi (tarif full bo!).

Akhirnya sang abi luruh juga. Jam 13.00 s/d 15.30 semua khusyu dengan kisah anak-anak belitung murid bu Muslimah C Ikal, Lintang, dan Mahar yang cerdas nan jenaka. Hingga diakhir cerita, air mata tak tertahankan saat Lintang yang briliant, yang setiap berangkat sekolah terlambat karena "dicegat" buaya (buaya beneran bukan buaya darat lo!), Lintang yang hitam manis, Lintang yang yatim piatu, yang menjadi murid pertama masuk SD Muhammadiyah Belitong, namun juga menjadi murid pertama yang harus keluar sekolah karena saat ayahnya yang nelayan itu tenggelam, ia harus mencari nafkah. Lintang, anak kelas 5 SD itu tak bisa lagi mengenyam bahagianya bersekolah bersama 9 teman2 yang mencerahkan. Namun Lintang yang pendiam itu, menyimpan asa yang dalam. Sebuah asa untuk tetap bisa meniti pelangi.

I love u Lintang, bukan saja karena ia adalah cermin masa kecil pasangan jiwaku. Bukan juga karena ia seorang yang tulus mensyukuri takdir Allah. Namun juga karena ia mengajarkan ikhlas pada putra-putriku.
"Ummi tadi kaka nangis loh waktu Lintang perpisahan dengan teman2nya", Putraku membuat pengakuan sesaat setelah lampu2 layar Blitzmegaplex padam.
"Eeee abi juga nangis lo mi!" Fathiyya nyeletuk. Abinya dibuat tersipu, inget masa kecil ya bi? Lintang laksana Fahrus zaman kecil he..he..
"Uncle Rama juga nangis kok Mi," kata Fathiyya yang ketika nonton sempat duduk disebelah adikku. "kenapa sih mi semua pada nangis? Bapak kepala sekolahnya meninggal ya? atou aa Lintangnya takut buaya ya?"
He..he...dede...dede...dede juga nangis kan kenapa hayyooo???

Wednesday, July 30, 2008

Something goes wrong with my mind...

I wish I was wrong...but it always did, came true!

Tak pernah terjadi sebelumnya sungguh, perasaan itu tak hanya sekedar sebuah rasa. Prasangka itu tak hanya menjadi praduga, ia terjadi menjelma nyata menjadi celaka. Naudzubillahi mindzalik.

Selasa lalu, akhirnya aku tumbang juga di jalan raya tak jauh dari rumahku. Motorku tergelincir di kubangan kerikil yang kulewati. Sempat gelap gulita sesaat pandanganku sebelum tersadar kaki kananku tertindih badan motorku. Luka-lukanya memang tak seberapa namun ada trauma dan tragedi psikis yang berlanjut sesudahnya. Meski begitu Alhamdulillah I◦m okey n alone (no kids with me).

Tak berhenti sampai disitu, karena aku memang langsung beraktifitas lagi. Ahad kemarin, karena diminta suami mengantar kamera yang tertinggal untuk acara sidak gubernur di daerah terpencil (kp.cibadak) aku harus melewati jalan terjal menurun curam. Dan sekali lagi aku kehilangan keseimbangan hingga tergelincir lagi. Kali ini anak-anak ikut denganku. Tapi, Subhanallah, Alhamdulillah mereka baik-baik saja bahkan sempat menyeringai geli melihatku menangis cengeng, secara banyak orang n rombongan gubernur sedang mengekorku T-T

Thats not the point actually. Dari rangkaian accident itu setelah bermuhasabah baru ku telisik, bahwa sesaat sebelum terjadi pikiranku sudah membisikkan bahwa itu akan terjadi.Dan benar terjadi! Exactly as I thought!

Bahkan saat accident pertama, aku sempat menyampaikan pada suamiku bahwa aku takut lewat jalan berkerikil "itu" karena aku merasa akan jatuh dengan posisi "itu", een guess what?! It happened again, exactly as I thought!

Begitupun pada accident kedua, my mind drove me crazy!
Dan setelah dikilas balik ternyata accident yang terjadi pada orang-orang disekitarku dalam sebulan ini sebelumnya diikuti somethings
whispered in my mind.

Waktu sohib suamiku bertandang kerumahku dan pamitan di malam gelap, pas parkir my mind had already figured out "that" accident namun tak terucap. Dan Grand Livina itu kejeblos tepat seperti gambaran dalam pikiranku. Begitupun beberapa accident kecil yang tak bisa disebutkan satu persatu disini.

Sedihnya hingga kutuangkan dalam jurnal ini, pikiranku masih sering asyik bermain-main dengan "prasangka" itu. Namun biasanya diikuti sepotong doa berharap tak akan terjadi, sambil menguatkan tawakal Ilallah.

Meski suamiku sudah mengingatkanku untuk tidak terlalu menimbang dgn perasaan, tidak memperturutkan pikiranku yang masih suka "bermain-main" namun tetap aku tidak bisa begitu saja mengabaikan kata hati or feeling itu. Pastinya aku bukan seorang indigo or sejenisnya, hanya perempuan biasa yang sedang belajar ayat-ayat kauniyah-Nya.