Thursday, October 30, 2008

1001 alasan membuat blog, 1 untukmu...

Rating:★
Category:Other
"Ummi buat apa bikin blog?" Tanya putraku

Setiap orang tentu punya alasan sendiri mengapa memutuskan memiliki blog, membuka satu ruang hidup didunia maya, membuat jejak didunia virtual. Ada yang membuat blog sebagai aktualisasi diri , ada yang menjadikannya armada bisnis, media pamer(an)/show room, media dakwah, media curhat, media sosialisasi (berteman, bersahabat, dst) , bahkan ada yang menjadikan blog sebagai BANK (media penyimpanan dokumen) maupun media trashing (pelemparan sampah otak).



Suatu ketika pernah kubaca postingan link site nya Londo Ireng, may Allah bless him n his 4 kids dari dek Fathia Raenad. Bang Londo ini sempat koma di RS.Elizabeth Singapura karena kecelakaan di tol Semarang. Dalam koma itu putranya yang sulung mencurahkan segala kesedihannya sebagai sulung dari 4 bersaudara yang telah piatu (umminya meninggal dunia), sedang abinya (bang Londo) terkapar tak berdaya.


Dan beberapa bulan lalu, saat "surfing bebas" menemukan homesite nya almarhumah bunda inong , beliau telah berpulang September tahun lalu. Membaca tulisan-tulisan sederhana beliau membuatku menangis lagi. Bahkan seorang ikhwan di Singapura membuat link site dan testimony tentang beliau: "Bacalah tulisan beliau...Beliau telah pulang ke Rahmatullah..Ketika aku membaca ceritanya mata aku berkaca-kaca....Walaupun aku tidak mengenali beliau..Ternyata dalam tulisannya beliau seorang ibu dan isteri penyayang..."(Bin abu bakar).


Banyak hikmah dari keduanya.

Dari "rumah" multiply nya, Arie, putra Bang Londo menyampaikan pada dunia tentang kerinduannya pada sang abi, tentang munajatnya memohon kesembuhan abi tercinta, dan Subhanallah...Puluhan comment menghampiri, doa pun mengalir dari sahabat-sahabat maya Bang Londo....

Begitupun dengan Almarhumah Bunda Inong, kepergiannya meninggalkan cinta yang terus mengalir dari blogspot nya. Puluhan visitor menyatakan kekaguman atas tulisan-tulisan beliau yang menginspirasi serta memotivasi. Tulisannya menjadi salah satu bukti kasih sayang yang mengalir deras pada Zidan dan Syifa, kedua buah hatinya.

Subhanallah kekuatan sebuah ruang di dunia maya telah memberikan kontribusi besar bagi jiwa yang hidup didunia nyata.

Karenanya kalau putraku bertanya buat apa blog ini? Jawabnya sebagai HERITAGE untuk kalian wahai anak-anakku. Usia manusia rahasia Allah, maka jika usiaku telah sampai waktunya perjumpaan dengan kekasih sejati, Allah Yang Rahmaan Rahiim, Rumah pelangi ini mencatat sejarah kasih sayangku pada kalian.

Momen-momen manis bersama kalian, perjalanan tentang kalian, pun perjalanan mimpi serta gagasanku tersusun rapi dalam rak-rak di Rumah pelangi ini.Bahkan sahabat-sahabat yang kumiliki di Rumah pelangi ini hakikatnya adalah sahabat bagi kalian. Yang pada mereka kelak ku titip putra-putri ku untuk belajar tentang kehidupan meniti Siratal Mustaqim.

Kelak tiba masanya, jika habis masaku didunia, Rumah pelangi menjadi rumah kalian yang hangat, yang padanya kalian dapat menemukan ku sebagaimana aku apa adanya. Jika kalian menjadikan Rumah pelangi sebagai rumah dakwah yang didalamnya terdapat ilmu yang bermanfaat maka Insya Allah mengalirlah amalan sholeh bagi ku juga bagi kalian. Namun sebaliknya, jika saat aku menanti hari akhir dialam kubur kelak, kalian menjadikan rumah ini tempat sia-sia maka menangislah aku dalam siksa-Nya, Naudzubillahi min dzalik.

Terlepas dari kehidupan kalian di dunia nyata maupun didunia maya ini, ada kehidupan di kampung akhirat yang menanti kita. Sudah cukupkah bekal kita untuk membangun rumah yang indah di kampung akhirat kelak?

Tidak ada lagi warisan terbaik untuk kalian, selain Al-Quran. Seluruh kekayaan, kepandaian, ketampanan maupun kecantikan adalah milik Allah. Kalian pun milik Allah yang akan diperkarakan dan dimintai pertanggungjawaban. Karenanya peluk Islam erat-erat, jadikan Quran sebagai panduan hingga perjumpaan di kampung akhirat kelak.

PS: Fathan,semoga pertanyaanmu terjawab sudah. So bantu perahu kertas ummi berlayar hingga sampai ke pantai ya sayang *)

Ada yang punya alasan lain???



Merpati tak pernah ingkar janji, akur selamanya ya sayaaaaang....




Kenapa ya sibling punya kecenderungan beranteeem melulu, ga laki ga perempuan, ga yang tua ga yang muda sammmaaa ajah susah mengalah!

Sehari kan hanya 24jam, mbok ya dipake yang manfaat, yang damai, yang akur gituh de, kak...naaah kayak acara maen sepeda ini, satu sepeda kan bisa berdua boncengan, simpen dulu sepeda ade, ikut mbonceng sama kakak...jangan dikit-dikit berantem rebutan donat lah, Leggo's lah
(padahal sdh ada jatah masing2 loh!), rebutan remote lah, rebutan abi juga...haduuuuh....

Kakak, Dede Peace honey....^_^

DSCN2176.MOV




Tuesday, October 28, 2008

Menikahi anak 7thn, sunnah Rasul atau pedofilia?

Gunjang-ganjing berita tentang syekh Puji yang menikahi gadis 12 thn, 9 th dan 7 thn sebagai isteri ke 2,3 dan 4 itu mampir ditelingaku siang tadi. Apalagi waktu pak Wakasek sekolahku ikut-ikutan minta aku confirm berita lengkapnya ke mbah Google. Secara berita terakhir syekh ini kabur ke Singapore manakala didatangi Komisi Perlindungan Anak. Waaah kisruh ruang guru, ibu-ibu guru puanassss +(

Pujiono Cahyo Widianto, kiai kaya pemilik pondok pesantren Miftakhul Jannah di Semarang ini telah mempunyai 2 orang istri (salah seorang berumur 12 tahun), Tragisnya, pria 43 tahun itu berniat menambah istri yang lebih muda yakni 9 dan 7 tahun, astaghfirullah al azim!!

Syekh Puji beralasan punya dasar agama untuk menikahi Ulfa dan dua bocah ingusan yang masih duduk di sekolah dasar itu. “Saya punya dasar agama juga. Nggak ngawur,” kata Syekh Puji saat dihubungi detikcom, Kamis (23/10/2008). Sekadar diketahui, kiai kaya di Semarang yang dikenal dengan sebutan Syekh Puji mengaku menikah siri dengan Lutfiana Ulfa, bocah 12 tahun. Gadis yang dinikahi secara siri itu dijadikan general manager di salah satu perusahaan milik sang Syekh.


Bagaimana pendapat dari sisi medis mengenai aksi kyai pedofilia ini? Direktur RS Puri Cinere dr Winahyo Hardjoprakoso Sp OG menganggap perilaku itu kejam. “Kok kejam banget nikah sama anak kecil. Itu kan vaginanya masih kecil. Kalau dimasukin penis dewasa bisa rusak,” katanya kepada detikcom, Kamis (23/10/2008).

Winahyo mengatakan, meski sudah mendapat menstruasi, seorang perempuan belum bisa dikatakan dewasa dan siap untuk menikah. Datang bulan, hanya salah satu rangkaian dari siklus reproduksi. “Saya pikir dari segi fisik dia masih belum siap. Fungsi reproduksinya belum sempurna,” katanya.
Selain secara fisik, menuruh Winahyo, perempuan berusia sekecil itu juga belum matang secara emosional. “Dia belum siap punya anak. Kan usia itu masih bermain- main,” tandasnya.
Winahyo mengatakan, seorang perempuan dikatakan siap secara fisik, hormonal dan emosional untuk menikah di atas 18 tahun

Lalu bagaimana hukum kita memandang tindakan kyai ini?
Apakah RUU Pornografi telah cukup untuk mengakomodasi kasus sejenis ini? Syeh Puji dan istri keduanya itu bisa diancam penjara 4 tahun karena melanggar KUHP, dalam pasal 288 KUHP ada larangan menikahi anak di bawah umur karena belum dewasa,” kata ahli hukum pidana Universitas Indonesia (UI) Rudi Satrio. Pasal 288 ayat 1 KUHP menyatakan, barangsiapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin , apabila perbuatan itu mengakibatkan luka- luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.


Lalu bagaimana pandangan Islam memandang kasus pernikahan di bawah umur merujuk pada pernikahan Nabi Muhammad SAW? Masya Allah ternyata Syekh Puji mengatakan, hanya mengikuti ajaran Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah saat berumur 7 tahun. Namun Rasulullah tidak ‘mencampuri’ Aisyah hingga si gadis akil baliq. Syekh Puji pun tidak akan ‘mencampuri’ istri- istrinya yang belum akil baliq.
“Saya sesuai ajaran kanjeng nabi. Kalau yang namanya menikah dengan umurnya 7 tahun boleh saja. Kalau urusan campur setelah dia mens,” ujarnya. Menurut Syekh, Lutfiana Ulfa sudah akil baliq yang ditandai dengan datangnya siklus bulanan haid. Sedangkan dua bocah lainnya belum haid. “Ulfa sudah mens. Yang dua belum mens. Belum boleh (dicampuri),” imbuhnya.


Bagaimana mungkin ia mengatasnamakan Islam dalam kasus pernikahan tersebut? Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Walaupun tidak cukup jelas yang dimaksud dengan Aisyah sebagai “bikr” adalah gadis dibawah umur atau gadis remaja (yang penting masih gadis/ perawan). Tetapi pada masa itu Aisyah sebagai gadis Arab belia sangat berbeda kondisinya dengan anak perempuan di Indonesia, baik dari sisi pendidikan (Aisyah r.A tentu sudah dididik ayahnya dengan kekuatan iman), kebudayaan, maupun postur tubuh.

Dan saya mensarikan serta menulis berita ini dibantu mbah Google dengan tangan gemetar. Saya hanya seorang ibu biasa, yang diamanahi juga seorang putri. Terbayang seandainya putri kecil saya yang dipinang....Duuuh Rabbana...

Wallahu"alam Bish Shawab

Monday, October 27, 2008

Kalo kurcaci bikin roti... ^_^

Ternyata bikin roti lebih asyik daripada makan roti? Aaaah masa seeh? Ini kesimpulan akhir my girl setelah pulang field trip dengan teman-teman sekolahnya ke pabrik roti La Sera minggu lalu.

Fathiyya dag dig dug der ga sabar pengen cepet berangkat sekolah. Sayangnya waktu ummi pengen ikut ngintipin aktifitas field trip ini, bu gurunya bilang Fathiyya harus masuk mobil yang disiapkan sekolah agar mandiri dan tidak terpisah. Padahal sempet nawarin mobil kita biar dipake pihak sekolah =akal-akalan biar umminya boleh ngintip =P, ternyata it doesnt work. Akhirnya ummi balik kanan bubar jalan deh go home.

Tapi Pak Djun dari skola Fathiyya kirim foto-fotonya nih, nuhun ya Pak Djun. Dari mulai ice breaking nih, baris dulu sebelum berangkat. Yuhuuu kelas lebah prajurit 2 sudah siap jadi chef La Sera nih...

Pertama-tama liat cara bikin adonan roti, "wah pancinya guedee ummi" kata Fathiyya. Loooh emang pake panci?? Dasar kurcaci ceritanya versi bayi hi..Hi..

"Adonannya diaduk pake panci yang bisa muter sendiri" Fathiyya bercerita antusias. "Terus dibentuk adonannya. Mejanya besaar sekali ummi, padahal kan tangannya kecil-kecil"

"Terus ada yang dikasih coklat, keju, pisang, ehmmm yang pake pedess juga ada mi"
Yang pedas Pizza kali ya maksudnya?£$%&

"Terus dimasak (dipanggang kalee), terus jadi deh"
Asyiiik pulangnya dapet oleh-oleh sekotak roti La Sera, yummy!

"Ummi kita bikin roti yuuuk"

*Toink*toink*takluk.Com*











Nyonya atau nona?

Sebleeee benerr daaah! Gimana ya kalo lagi shaum (alias laparrr teparrr*) trus dibuat keki...!"£$%&
Ceritanya siang tadi sudah janjian dengan dokter kandungan di klinik A, ga tahunya beliau ga bisa n digantikan bapaknya yang juga dokter spesialis kandungan. Meskipun beliau lebih senior tapikan tetap bapak-bapak, secara aku kan janjiannya dengan putrinya. Akhirnya dengan berat hati ku batalkan.

AKhirnya setelah telpon sana-sini, dapet info dari teman yang baru caesar bahwasanya dokter yang kucari sedang praktek di rumah sakit bersalin B. Aku langsung meluncur ke Rumah Sakit Bersalin B, waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 (sambil lapar, mikir dimana lagi ada dokter kandungan perempuan praktek siang, kebanyakan kan buka sore or malem).

Sampe sana kulihat service nya oke banget, full senyum mulai dari satpam, recepsionist, ampe para suster. Waktu pertama ditempat pendaftaran sih lancar cuma ditanya data diri (nama, usia, alamat dkk). Tetapi pendaftaran terjeda karena aku harus ke toilet dan terima telpon puanjaang dari seorang teman. Alhasil ketika aku kembali 30 menit kemudian aku harus daftar ulang (sabaaar, belum seberapa nih BT nya). Sebagaimana prosedur awal aku mengisi kartu lagi, lalu ketemu suster dimeja satu lagi untuk checking tensi, tinggi n berat badan. Sementara itu kuperhatikan pasien yang belakangan datang hilir mudik mendapat giliran masuk dengan cepat dan lancar mendahuluiku (sabaaaar lagi shaum hik..hik...).

20 menit berlalu, seorang suster mengumumkan bahwa dokter yang bersangkutan mendadak ada rapat jadi digantikan rekannya. Suster juga meminta maaf karena aku dan beberapa pasien yang tersisa tidak ditangani dokter yang bersangkutan (hadduuuuuh sungguh sangking kesel aku berdoa semoga Fathiyya jadi dokter kandungan yang menjaga amanah dan tidak sibuk ya de..amiin). Tapi Alhamdulillah penggantinya juga dokter perempuan jadi no problemo laah, whoever she is, show must go on!

Selagi menunggu namaku dipanggil aku telpon suamiku, curhat dikit-dikit daripada bengong sambil nangis he..he..
Dan tibalah giliranku sejam kemudian. Ku pikir bisa langsung masuk dan ketemu dokternya, ternyata suster dimeja pendaftaran satu laginya mencegatku, " Maaf Nyonya atau Nona Nurul?" tanyanya masih dengan senyum itu.
"Nyonya" jawabku datar, asap mulai mengepul di kepalaku.
"Ooh, silahkan duduk nyonya Nurul, kata suster Fanya dimeja 1, Nona, abis imut sih" , setengah hati aku duduk lagi, ini dipuji apa diuji sih?. Lo loh emang dokternya yang mana sih? Ni suster apa dokter??
"Usianya berapa bu?" tanya suster yang full senyum itu. Aku belum mau menjawab, secara kan tadi di meja pendaftaran 1 sudah diinterogasi. "Usianya berapa nyonya Nurul?" suster bertanya lagi.

Akhirnya aku jawab, daaaan prosedur awal terulang lagi. Kali ini lebih parah, aku diminta memperlihatkan KTP dan Surat Nikah sebelum masuk ruangan periksa. Gubrag!!!!
Emang salah guwe apa coba??!!! Sejak kapan periksa beginian pake KTP n surat nikah? Kalo KTP ya dibawa, kalo surat nikah...ya ampyuuun!!! Apa wajah ini tidak menggambarkan nyonya beranak dua??? Asap semakin membumbung tinggi dikepalaku...mau meledak rasanya!!

Alhamdulillah KTP ku di approve meski tanpa surat nikah. Maka saat adzan ashar berkumandang aku bisa masuk ruang periksa.

Tapi ternyata pertanyaan pertama sang dokter adalah:
"Nyonya atau Nona?"
Halaaaaaaagh capeee deeeeeh +(

Ikan Balita dari Bogor


Nih ikan merupakan salah satu "hasil tangkapan" sang abi waktu "kerja lembur" 2 hari yang lalu. Awalnya ngga ngeh ada Ikan balita nyempil diantara "hasil tangkapan" yang lain, setcara sang abi masuk garasi jam 2 pagi rek!

Bada shubuh baru dibongkar tuh "hasil tangkapan", diantara red apple, juice belimbing, anggur, syrop Limau, opak bakar,pisang molen n cheese stick kartika sari, terdapatlah sekotak ikan balita goreng he..he...

Dari semua "tangkapan" itu yang langsung dibahas pas breakfast time hanya si Ikan Balita ini, secara my girl baru tau ada ikan dinamai balita (bayi lima tahun, serasa senasib dengan dirinya*)

"Ummi ni ikan apa? kok kecil-kecil begini?" tanya fathiyya sambil asyik mengunyah ikan yang rasanya seperti keripik ini.
"Hmm anak ikan apa yah?" aku jadi bingung, karena setelah dilihat ingredient nya cuma ditulis komposisinya hanya garam dan IKAN BALITA. Emang ada yang bernama ikan balita didunia perikanan?!"£$%&*


"Dari bentuknya ini sepertinya bayi ikan mas de, ato bayi ikan mujair", jawabku setelah fathiyya mengejarku dengan kepenasarannya.
"Iiiih ummi kasian, kok bayi digoreng!" Fathiyya menahan suapannya, dicermatinya ikan balita dalam kotak dengan kening dikerut.
"yaaa itukan bayinya ikan de, jadi ga papa" aku mencoba menetralisir lagi.
"Ngga mau ah nanti bayinya nangis" Fathiyya berlalu meninggalkan sarapannya.
Eeeeh dasar bayi he..he...

PS: Ikan balita nie katanya makanan tradisional khas Bogor. Tapi kok ga seterkenal asinan Bogor atow Roti Unyil nya ya, padahal selain unik ikan balita nih kaya akan kalsium eeen rasanya crunchy abisss! (apalagi klo gratisan, uenak e poll..he..he..)

Hatur nuhun, Jazzakallah khair buat ibu Netty Heryawan atas oleh-oleh nya