Sunday, November 9, 2008
Demi cinta, dapet yang manis
Gini nih kalo suami cinta kebangetan ke istri he...He..
Sebenernya jadwal pulang ke cirebon sudah di inform sebulan sebelumnya, di ingetin lagi seminggu sebelumnya, tapi pas hari H ada aja alasan suami buat menahan istrinya. "Besok abi ngisi acara di Banjaran Mi, ikut dulu aja yuk, dari sana baru deh langsung ke Cirebon."
"Hmmm bilang aja minta ditemenin ke Banjaran nya, bilang aja ga mau ditinggal ummi, ya kaaan?"
Sang abi tersipu-sipu jadinya. AkhirnyaJum'at lalu jadwal pulang ke Cirebon, tertunda. Sabtu pagi nemenin abi dulu nih, enjoy aja meski akhirnya start dari Bandung jam 5 sore. Nda papa, demi siapa hayooo? (Ngacung yang ngerasa..*)
Pengorbanan tenyata berbuah pengalaman manis bukan cuman buatku, tapi juga buat anak-anak. Sambil nunggu sang abi mengisi acara training HIMA PUI (Pers.Umat Islam), aku dan anak-anak di pandu seorang panitia akhwat yang baik hati berkeliling wilayah pesantren yang terletak dipelosok desa di daerah Banjaran.
Subhanallah, didesa yang asri ini selain asrama putra-putri pesantren yang masih terbuat dari bilik, ternyata juga dibangun diatas balong ikan (ikannya guede-gede lagih!). Semuanya bersahaja. Mau nda ya anak-anakku nyantri disini?
Saturday, November 8, 2008
Gerimis malam ini...
Sejatinya kucinta hujan apa adanya. Sejak kecil .
Mungkin karena dalam hujan selalu menawarkan rasa damai, juga karena hakikatnya ia adalah rizki yang Allah turunkan langsung dari langit.
Tapi gerimis malam ini, tak menyisakan damai itu. Kenapa ya? Hatiku juga ikut gerimis....
Apakah karena helm kesayanganku hilang? Mungkin bagi orang lain helm seharga 1/4 juta itu tidak istimewa, tapi bagiku ia sahabat baik yang tidak mampu kubeli lagi. Benarkah karena helm capung itu hatiku gerimis? Aaah bukan...Aku bahkan sudah hampir lupa rasa nyaman bersama si capung ini.
Lantas kenapa ya? Gerimis malam ini sungguh mengundang gerimis hati, rasanya sakit sekali...
Mungkinkah karena side effect tragedi sms seminggu lalu? Atau bahkan sesungguhnya akumulasi dari rasa bahagia?
Ataukah karena malam ini eksekusi mati atas tiga mujahid itu diberlakukan?
Duhai Allah yang maha membolak-balik hati ini, Kuserahkan hati ini pada-Mu saja...
Al Fatihah untuk mujahidku, Bang Mukhlas, Amrozi, dan Imam Samudra, Allahu Akbar!!!
Thursday, November 6, 2008
Wednesday, November 5, 2008
Daun Apa yang enak dimakan hayyooo???
Teka-teki ala Fathiyya (foto: paling kiri), nie hasil nguping umminya waktu fathiyya (5th) ngobrol ma putri (9thn) en elsa (8thn),anak teman-teman suamiku.
Fathiyya: "Daun apa yang enak dimakan hayyyoooo?"
Putri: "pasti daun singkong,ya kan?"
Fathiyya: "bukan doong" (dia PeDe abiss, padahal ga pernah tau daun singkong tuh bisa dimakan he..He..)
Elsa: "hmm daun telinga ya?"
Fathiyya tertawa, putri juga. (Emang daun telinga lucu ya =D
Fathiyya: "Salah, Telinga kan ga ada daunnya" (gininih kalo anak 5thn ngasih tebakan ke anak 9 n 8thn, sok tua jadinya hi..Hi..)
Putri: "oooh daun pintu ya?"
Fathiyya:"Loh pintukan ga ada daunnya juga Teh putri" (makin jaka sembung nih he..He..)
Elsa: "takluk aah, fathiyya kasih tau dooonk"
Fathiyya: "Ga tau ya daun yang enak dimakan yaaa DAUNAT dooonk"
*Toink*toink* =D
Kebakaraaaan!!!
Seumur-umur ga pernah ngerasain puyengnya nyari hutan kebakaran kayak malam ini! Kebakaran? Ngapain dicari-cari?
Ini malam jum'at kan? (So what??!!!)
Bukan masalah Ju'mat nya, tapi larut malemnya itu, capenya, keuheul na!! Jadi ceritanya, pulang ngajar jam 05.20, sampe rumah maghrib, habis sholat n tadarusan kan paling enak makan pake nasi ngebul secara abis nguli dari jam 1 teng siang tadi. Ini malah 'dikerjai' si kaka yang minta dicarikan foto banjir, longsor, gempa bumi, en hutan kebakaran buat ditempel dibuku PR science nya. Putraku yang sekarang di kelas 3 SD ini ngotot minta aku ngebongkar tumpukan koran saat itu juga karena PR nya harus dikumpulkan besok pagi.
Akhirnya aku iba juga, tumpukan koran setinggi satu meteran itu kuturunkan, dan siap 'dibedah'. Kalo foto tentang longsor dan gempa bumi sih ada, foto banjir apalagi pabalatak, tapi foto hutan kebakaran? Harre geneee? Heiloooo bu guru ini musim hujan, mana ada hutan kebakaran, yang ada juga ummi kebakaran jenggot +(
Sudah jam 9 malam tapi belum satupun kulihat batang hidung si hutan kebakaran. Putraku mulai dilanda kecemasan, menggerutu kesana-sini. Aku menawarkan cari di internet aja, terus di print. Dia tolak, karena katanya ibu guru nyuruhnya cari di koran. Terus dia mulai lagi merengek-rengek sambil protes karena aku lama buka korannya (maklum, jadi 'gatel', nemu berita seru ato rubrik asyik, baca dulu, nemu resep baru, gunting dulu, nemu cerber Tea for Two, ngliping dulu he..He..)
"Ummi tuh nyarinya fokus, liat gambarnya ajah, nih yg beginiannya aja!" Putraku ngomel-ngomel.
Aku cuma manggut-manggut. Nih anak sudah 'ngerjain', mulai ngatur-ngatur lagi!
"Ummiiee sudah ada belum?!", Jam 11 kurang putraku merengek lagi. "Lo kok ummi malah gunting-gunting yang kayak gini!"
Aku mulai panas nih, mana sudah malam eeh denger anak kecil ngomel lagih. Kesabaranku sudah habis nyari berita tentang kebakaran hutan, yang ada juga aku kebakaran.
"Kaka sabar dong, ummi juga sedang nyari. Kaka juga lihat kan sudah diobrak-abrik tetep ga ada. Coba ummi tanya, kaka jawab yang jujur.Ini kapan dikumpulkan tugasnya?"
"Besok pagi" Putraku melunak. Umminya sedang nyiapin kuda-kuda untuk serangan balik nih.
"Kapan bu guru menugaskannya?" Tanyaku, ikutan mengendor.
"Hmmm Jumat yang lalu"
"Ya Allah....Kenapa baru sekarang sih ngerjainnya?!" Aku beneran kebakaran nih. Pasalnya ini kejadian bukan yang pertama kali. "Ummi kan sudah bilang, kalo pulang sekolah kaka langsung kerjain PR nya jadi bukan ditumpuk sampe minggu depannya bla..Bla..Bla..."
"Tomorrow, no more cartoon after school, no more TV after school, no more sasapedahan, do your homework first! Denger kaka? Ngerti? Heiloooo kakaaaa...."
Ya ampyuuun tuh anak sudah molor diatas tumpukan koran. Fuii....Hadoooooogh!
Saturday, November 1, 2008
blog=perahu kertas?
"Seperti membuat perahu kertas & mengalirkannya ke air dilautan, tanpa beban atas pendapat orang, suka atau tidak suka " (Darwis Tere Live). Begitulah analogi sebuah blog.
Meski aku tidak menolak pendapat Mr.Live diatas ,namun untuk mengamininya pun rasanya kok terlalu sporadis.
Benarkah membuat blog (menuangkan ide, cerita, foto, hingga mengomentari) seperti membuat perahu kertas & mengalirkannya ke air dilautan, tanpa beban atas pendapat orang, suka atau tidak suka?
Mungkin ya, ia ibarat perahu kertas diatas lautan yang kadang timbul tenggelam, bahkan karam didasar lautan manakala tak seorangpun menoleh pada perahu kertas tersebut.
Namun jika ia seorang Muslim maka ia tidak akan berlaku dzalim pada lautan. Perahu kertas tidak akan ia isi dengan setetes minyakpun, agar lautan terjaga fitrohnya. Maka benarkah tak perlu peduli pada pandangan orang, suka atau tidak suka? Pandangan manusia mungkin tak perlu dihiraukan, namun diatas semua itu ada mata Sang Khalik yang tak pernah tidur. Ada ribuan malaikat bersiap mencatat bagaimana dan darimana perahu kertas itu berlayar. Maka bersiaplah pada yaumul hisab, setiap lisan yang tertulis di blog tentu akan diminta pertanggung jawaban. Jika ia menjadi maslahat bagi ummat maka tentu menjadi tabungan untuk membangun rumah di jannah, namun sebaliknya jika ia membawa mudharat maka tak akan luput dari perhitungan Allah, meski sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta penerima tobat.
Wallahu alam bishawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)