Saturday, December 22, 2007

Study Tour to Baturraden-Goa jati jajar-Owabong

Start:     Dec 30, '07 06:00a
End:     Jan 1, '08 9:00p
Location:     Baturraden, dimana coba? lupa!padahal baru 3 bulan kmrn ksono...au ah gelap!
Habis begadang ngisi raport, ngadepin ortu siswa yang anaknya beragam problems...teruus besoknya harus ngawal mereka (siswa) jalan-jalan...hwa...ga bangeeeet.....
Balada wali kelas nieeeeeeeeee...........

Farewell Party

Start:     Dec 25, '07 08:00a
End:     Dec 26, '07 9:00p
Location:     Masjid Kubah Emas----TMII----Jakarta
Tour mulai dari Masjid kubah emas hingga Taman Mini Indonesia Indah...
Free only for teachers of SMPN 3...last service from our headmaster before he move to another school...

Fathiyya's birthday

Start:     Dec 23, '07
"Ummi besok dede empat tahun kan? Tuh kan apa kata dede juga...dede sudah tinggi kan...jadi boleh pake lipstick seperti ibu gulu!"
Woke up in the morning, my angel shouted me up.
Fuiiiih....no..no..but yes you'll get my lip service for your milad dear....and of course your jumbo banana split!
Happy milad dear...May Allah bless your life here and hereafter...

Thursday, December 6, 2007

Kepada Bapak anak-anakku

bila kita telah
dan terus masih
berarti kita akan

telah itu sejarah
masih itu kenyataan
akan itu harapan

hari ini sewindu sudah
sejarah kita tercatat
semoga harapan itu menjadi kenyataan

'Happy wedding anniversary dear...'
Thanks 4 being my best soulmate ever!!

 

Hati yang merindui

  

Ini bukan kisah cinta meski judulnya merupa novel cinta. Walau bukan kisah cinta, ini sebenarnya cinta nan tulus dari keping hati anak-anakku, Fathan dan Fathiyya.

 

Sejak kepergian abi mereka untuk tugas di Kuala Lumpur, sayu di mata binar mereka. Fathiyya yang akhir Desember nanti baru genap berusia 4 tahun, mungkin dapat dipahami jika merasa ditinggalkan begitu saja oleh abinya (karena sejak itu ia tidak mau terima telepon dari abinya).

 

Namun untuk kakaknya, Fathan yang sudah duduk di kelas 2 SD, rasanya sudah seharusnya mengerti dan memahami kepergian abinya untuk tugas. Namun tetap saja Fathan, putraku ini membatu, tak mau terima telepon abinya yang setiap jam breakfast n dinner rutin ngabsen buah hatinya.

 

Tiba-tiba Fathan & Fathiyya serasa memusuhi abinya. Setiap kutanya kenapa, mereka langsung diam seribu bahasa. Awalnya kupikir karena Fathan kecewa , kami tidak bisa mengantar kepergian abinya dari bandara tempo hari. Namun setelah berlalu lebih dari seminggu baru terlihat, Fathiyya hanya mau bertelepon dengan abinya kalau sekedar meminta oleh-oleh mainan impiannya, untuk bercerita yang lain-lain Fathiyya membatasi karena di ujung ceritanya Fathiyya akan bertanya “kapan abi pulang?” Lalu dia tidak akan terima jika jawaban abinya ‘nanti’ or ‘next week’ atau ‘next-next’ yg lain. Yang diharapkannya hanya satu jawaban ‘sekarang’, jika tidak dia akan langsung menangis meraung-raung!!

 

Sedangkan Fathan sedikitpun tiada kata terucap untuk abinya. Setiap Handphone ku berdering dan ternyata abinya yg menelpon, dia langsung memasang kedua tangannya untuk menutupi telinganya lalu pergi menjauh, berdiam diri disudut kamarnya.

 

Baru kusadar dalam diamnya putraku menangisi abinya , hatinya merindui abinya. Ia rindu bersenda gurau dan sholat berjamaah dengan abinya. Maka ia tak kuasa jika mendengar suara abinya, ia tak kuasa berkata-kata karena airmata yang tertahan telah mencekik tenggorokannya. Tiada kata untuk Abi, hanya hati yang merindui….

 

Pulanglah wahai bapak anak-anakku…

Go home soon, my dear husband.

We miss you so…

Dec 1st 2007

 

 

 

 

 

Saturday, September 22, 2007

Last long holiday, fuiiiih....kembali ke laptop!!!




2 minggu liburan berakhir dengan airmata, aku dikejar deadline dari publisher bukuku harus segera naik cetak! Walhasil anak2ku ikut terperangkap dalam liburan yang ga jelas (kemanapun aku pergi harus...kembali ke laptop!). Alhamdulillah ada bodyguard yg baik hati bisa menceriakan sisa libur mereka... meski mereka tetap protes, ummi dikebon binatang kok bawa laptop!!!
Sorry honey, I owe you much for this!!
Thanx 4 Mr. Aan (my son's teacher who dare to be my kids' body guard)

Lara Ramadhan...

Siang itu aku tidak bisa menolak keinginan putraku untuk berbuka dengan pizza favoritnya. Aku menyanggupi karena ngga tega juga lihat dia merengek-rengek sementara dia sudah bertahan berjuang untuk tetap shaum meskipun banyak teman seusianya disekolah tidak shaum.

 

Ini bukan tragedi paprika dalam pizza, kalau sesudahnya aku muntah-muntah, panas-dingin dan migrain berat. Waktu itu khadimatku sudah pulang, tepat ba’da Isya untuk kesembilan kalinya aku muntah hebat. Badanku sudah tidak bisa bergerak, tergolek lemas dipembaringan, what’s up my body? Dan sepertinya tubuhku masih menolak something inside me, perlu muntahan kesepuluh nampaknya…

 

Putraku yang biasanya sibuk merengek minta dihidangkan cemilan ba’da teraweh malam itu ia nampak lebih ‘mature’. Dengan sigap ia menelpon abinya, mengabari keadaanku. Suamiku terdengar panik tapi tetap tenang memandu putraku untuk menanganiku. Mulai dari menyiapkan air minum hingga menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih. Aku minta putraku memeriksa pintu depan dan belakang yang belum sempat kukunci setelah khadimatku pulang. Putriku sibuk menangisiku, sambil memanggil-manggilku…ummi…ummi…. Deuh putriku ini lagi main sinetron kali, usianya belum lagi 4 tahun tapi sentimentilnya rek….

 

Setelah muntahan kesepuluh keluar tubuhku jauh lebih ‘enakan’. Suamiku yang tugas berbeda kota denganku masih keep contact dengan putraku. Aku sudah punya tenaga untuk bicara langsung dengan suamiku. “Ummi istirahat aja, kata kaka Fathan pintu-pintu sudah dikunci semua, tinggal motor diluar tapi aman kok mi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ummi tidur aja.” Suara diujung sana terdengar menentramkan, sepertinya tahu kegelisahanku. Bagaimana tidak khawatir, aku tidak berdaya, sementara dirumah ini hanya aku dan kedua anakku, motorku pun masih diluar…

 

Tengah malam aku terbangun dering HP dari suamiku, “Feeling better honey? Ummi ingin apa? Sedang ingin sesuatu ya sampai sakit gini?”

Sebaik-baiknya jawaban seorang istri adalah yang menentramkan suaminya. Waktu itu aku hanya ingin teriak “ I want you to be here, to be with us …” tapi kutahan dikerongkongan.

Hik…hik…ngga boleh yaa…karena ia bukan milikku saja ia juga milik ummat yang lebih berhak atas dirinya…ia harus disana…

 

Ramadhan ini bukan yang pertama tanpa suamiku, tapi tetap laranya serupa…

 

 

7 Ramadhan 1428H

Untuk yang sendiri diheningnya Ramadhan,

Allah is the perfect companion…