| Start: | Dec 30, '07 06:00a |
| End: | Jan 1, '08 9:00p |
| Location: | Baturraden, dimana coba? lupa!padahal baru 3 bulan kmrn ksono...au ah gelap! |
Balada wali kelas nieeeeeeeeee...........
| Start: | Dec 30, '07 06:00a |
| End: | Jan 1, '08 9:00p |
| Location: | Baturraden, dimana coba? lupa!padahal baru 3 bulan kmrn ksono...au ah gelap! |
| Start: | Dec 25, '07 08:00a |
| End: | Dec 26, '07 9:00p |
| Location: | Masjid Kubah Emas----TMII----Jakarta |
| Start: | Dec 23, '07 |
bila kita telah
dan terus masih
berarti kita akan
telah itu sejarah
masih itu kenyataan
akan itu harapan
hari ini sewindu sudah
sejarah kita tercatat
semoga harapan itu menjadi kenyataan
'Happy wedding anniversary dear...'
Thanks 4 being my best soulmate ever!!
Ini bukan kisah cinta meski judulnya merupa novel cinta. Walau bukan kisah cinta, ini sebenarnya cinta nan tulus dari keping hati anak-anakku, Fathan dan Fathiyya.
Sejak kepergian abi mereka untuk tugas di Kuala Lumpur, sayu di mata binar mereka. Fathiyya yang akhir Desember nanti baru genap berusia 4 tahun, mungkin dapat dipahami jika merasa ditinggalkan begitu saja oleh abinya (karena sejak itu ia tidak mau terima telepon dari abinya).
Namun untuk kakaknya, Fathan yang sudah duduk di kelas 2 SD, rasanya sudah seharusnya mengerti dan memahami kepergian abinya untuk tugas. Namun tetap saja Fathan, putraku ini membatu, tak mau terima telepon abinya yang setiap jam breakfast n dinner rutin ngabsen buah hatinya.
Tiba-tiba Fathan & Fathiyya serasa memusuhi abinya. Setiap kutanya kenapa, mereka langsung diam seribu bahasa. Awalnya kupikir karena Fathan kecewa , kami tidak bisa mengantar kepergian abinya dari bandara tempo hari. Namun setelah berlalu lebih dari seminggu baru terlihat, Fathiyya hanya mau bertelepon dengan abinya kalau sekedar meminta oleh-oleh mainan impiannya, untuk bercerita yang lain-lain Fathiyya membatasi karena di ujung ceritanya Fathiyya akan bertanya “kapan abi pulang?” Lalu dia tidak akan terima jika jawaban abinya ‘nanti’ or ‘next week’ atau ‘next-next’ yg lain. Yang diharapkannya hanya satu jawaban ‘sekarang’, jika tidak dia akan langsung menangis meraung-raung!!
Sedangkan Fathan sedikitpun tiada kata terucap untuk abinya. Setiap Handphone ku berdering dan ternyata abinya yg menelpon, dia langsung memasang kedua tangannya untuk menutupi telinganya lalu pergi menjauh, berdiam diri disudut kamarnya.
Baru kusadar dalam diamnya putraku menangisi abinya , hatinya merindui abinya. Ia rindu bersenda gurau dan sholat berjamaah dengan abinya. Maka ia tak kuasa jika mendengar suara abinya, ia tak kuasa berkata-kata karena airmata yang tertahan telah mencekik tenggorokannya. Tiada kata untuk Abi, hanya hati yang merindui….
Pulanglah wahai bapak anak-anakku…
Go home soon, my dear husband.
We miss you so…
Dec 1st 2007
Siang itu aku tidak bisa menolak keinginan putraku untuk berbuka dengan pizza favoritnya. Aku menyanggupi karena ngga tega juga lihat dia merengek-rengek sementara dia sudah bertahan berjuang untuk tetap shaum meskipun banyak teman seusianya disekolah tidak shaum.
Ini bukan tragedi paprika dalam pizza, kalau sesudahnya aku muntah-muntah, panas-dingin dan migrain berat. Waktu itu khadimatku sudah pulang, tepat ba’da Isya untuk kesembilan kalinya aku muntah hebat. Badanku sudah tidak bisa bergerak, tergolek lemas dipembaringan, what’s up my body? Dan sepertinya tubuhku masih menolak something inside me, perlu muntahan kesepuluh nampaknya…
Putraku yang biasanya sibuk merengek minta dihidangkan cemilan ba’da teraweh malam itu ia nampak lebih ‘mature’. Dengan sigap ia menelpon abinya, mengabari keadaanku. Suamiku terdengar panik tapi tetap tenang memandu putraku untuk menanganiku. Mulai dari menyiapkan air minum hingga menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih. Aku minta putraku memeriksa pintu depan dan belakang yang belum sempat kukunci setelah khadimatku pulang. Putriku sibuk menangisiku, sambil memanggil-manggilku…ummi…ummi…. Deuh putriku ini lagi main sinetron kali, usianya belum lagi 4 tahun tapi sentimentilnya rek….
Setelah muntahan kesepuluh keluar tubuhku jauh lebih ‘enakan’. Suamiku yang tugas berbeda
Tengah malam aku terbangun dering HP dari suamiku, “Feeling better honey? Ummi ingin apa? Sedang ingin sesuatu ya sampai sakit gini?”
Sebaik-baiknya jawaban seorang istri adalah yang menentramkan suaminya. Waktu itu aku hanya ingin teriak “ I want you to be here, to be with us …” tapi kutahan dikerongkongan.
Hik…hik…ngga boleh yaa…karena ia bukan milikku saja ia juga milik ummat yang lebih berhak atas dirinya…ia harus disana…
Ramadhan ini bukan yang pertama tanpa suamiku, tapi tetap laranya serupa…
7 Ramadhan 1428H
Untuk yang sendiri diheningnya Ramadhan,
Allah is the perfect companion…