| Rating: | ★★★ |
| Category: | Other |
Saturday, January 26, 2008
Adorable big sister for my kids!
Swimming Examination!
Friday, January 4, 2008
Adakah makhluk-Nya yang terbuat dari angin?”
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
“Adakah makhluk Allah yang terbuat dari angin?”
That’s a real smart genuine question of my son!
O, God I’m speechless!
Fathan mengejarku terus dengan pertanyaan itu sore tadi. Aku menghentikan acara bakar membakar bawal hitam favorit suamiku demi berpikir sejenak. Hmmm, mentok juga! Alhamdulillah weekend kali ini Abu Fathan berkesempatan pulang, so aku giring anakku untuk membahasnya dengan sang Abi.
“Bi, ada ga sih makhluk Allah yang terbuat dari angin?” tanya anakku tanpa mengulur waktu. Suamiku awalnya tak mengerti dengan pertanyaan itu, maklum sedang khusyu melepas kangennya bercanda dengan fathiyya.
“Abi ada ngga??!” Fathan mulai kehabisan kesabarannya melihat abinya masih asyik ber- smack down ria dengan adiknya.
“Maksud kaka gimana sih? Ya angin terbuat dari angin dong sayang…” suamiku mulai menanggapi serius.
“Gini loh Bi, Manusia kan terbuat dari tanah, Jin terbuat dari api, malaikat terbuat dari cahaya, nah kalo yang terbuat dari angin ada ngga?” anakku memberi penjelasan untuk pertanyaannya.
Mendadak sang Abi juga harus berpikir keras, keningnya berkerut lama.
“Abi ngerti ga sih maksud Kaka?” Anak lelakiku tak puas sebelum keluar jawaban yang jelas. Dengan berat suamiku menjawab dengan gelengan kepala, “Mungkin Tidak ada, Allah ciptakan angin sebagai angin. Yang punya manfaat untuk manusia.”
Aku mengintip dari tirai, fathan sepertinya masih belum puas, masih menunggu jawaban yang dinantinya.
Hmmmm beraaaaat…..
Is there anyone know the best explanation?
January 5th 2008
Happy New Year my son,
Keep questioning and learning dear!
Wednesday, December 26, 2007
Sore itu di gudang karet…
Bacalah lalu sampaikan pada alam agar mereka juga menjaga anak-anak kita., True story, a lesson to preserve our moslem generation …
Sore itu Dudi, dodo, dan didi seperti biasa bermain bersama di gudang karet dekat sekolah mereka. Meskipun Dudi sudah menginjak usia 14 tahun dan duduk dibangku kelas 9 SMP, ia tetap merasa nyaman bermain bersama Dodo dan didi yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Mereka bertiga tumbuh bersama sejak kecil. Rumah mereka memang tidak terlalu berdekatan namun cukup dengan bersepeda 10 menit mereka sudah bisa saling bertemu bergiliran dirumah masing-masing. Ditambah lagi SD dan SMP mereka hanya terpisah jembatan gantung, maka setiap ada waktu luang mereka habiskan bersama.
Sore itu Dudi, dodo, dan didi seperti biasa bermain bersama di gudang karet dekat sekolah mereka. Waktu itu matahari sudah menuju peraduan. Temaram malam beberapa waktu lagi menjelang. Seorang gadis cilik berusia 7 tahun melintas dihadapan mereka. Masih berseragam putih merah dipelukannya boneka berambut ikal hadiah dari ayahnya. Yani namanya, kulitnya nampak kemerahan karena sesiangan tadi ia melepas waktu bermain dilapangan voly dengan teman-teman sekolahnya. Tiba-tiba Dodo yang mengenal Yani sejak mereka di sekolah ngaji yang sama 2 tahun lalu mendekati Yani. Dodo mengajak Yani bergabung bersama teman-teman yang lain. Yani tentu saja menolaknya karena hari sudah menjelang Maghrib, dan ia tahu ibunya akan marah jika ia tidak lekas pulang. Dodo mengusulkan pada Dudi dan didi untuk bermain seperti yang mereka tonton di play station. Tentu saja dengan Yani sebagai partner permainan. Dudi dan didi awalnya tidak bergeming namun mereka jadi penasaran untuk bisa melakukan langsung permainan yang mereka tonton tempo hari.
Sore itu dengan susah payah mereka bertiga membujuk Yani untuk ikut dalam permainan. Akhirnya Yani tergiur juga setelah diiming-imingi uang Rp.15.000,-. Tentu saja untuk anak seusia Yani uang tersebut luar biasa besar nilainya. Ia bisa membeli sebatang cokelat dan sebuah boneka mungil di abang tukang mainan depan sekolahnya. Yani menurut saja ketika ia dituntun ketiga kakak kelasnya itu ke dalam gudang karet. Ia senang meskipun bingung karena belum tahu permainan yang akan dimainkan. Namun uang Rp.15.000,- itu bermain dibenaknya, mengusir kebingungan dan ketakutannya.
Sore itu di gudang karet, permainan itu dimulai. Dodo yang pertama kali melucuti pakaian Yani dan menggagahinya di hadapan kedua temannya. Lalu merka bergiliran melakukan hal yang sama. Tentu saja yani kecil berontak, tapi apa daya ia hanya gadis kecil yang tidak sebanding dipasung ketiga anak lelaki yang sedang mencoba permainan baru mereka dengan sekuat tenaga.
Sore itu di gudang karet, yani menangis tersedu-sedu namun tak seorang pun mampu mendengarnya karena adzan Maghrib bersahutan disetiap sudut jalan. Sementara ketiga bocah yang mendadak buas itu sudah berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Astaghfirullahaladzim. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Persidangan sampai tahap akhir, tuntutan orang tua yani berbuah meski tak sesuai harapan. Dodo sebagai otak dan pelaku dikenai sanksi kurungan 6 bulan potong tahanan, didi pun tak jauh berbeda nasibnya dengan Dodo. Namun untuk pelaku tertua, Dudi, pengadilan menyerahkannya pada keluarga untuk dibina, karena psikologinya terguncang serta alasan keluguannya. Orang tua Dudi yang hanya seorang kuli bangunan tak kuasa melakukan apapun untuk memberi pelajaran pada anak bungsunya ini, apalagi untuk membina dengan sepantasnya. Maka dengan berlinang airmata mereka menyerhkan perihal pembinaan ini pada pihak sekolah. Namun pihak sekolah memilih walikelas Dudi sebagai ujung tombak decision maker dalam pembinaan Dudi. Maka? Lieur lah walikelasnya….
Any suggestion?
Wish it was only a story, or a nightmare
Just forgot it or woke up immediately,
But I can’t.
Nurul UmmiF2
Table Manner Training
Dalam rangka memperingati hari Guru dan PGRI Desember yg lalu kami diundang training di Hotel Santika Cirebon, Table manner Training gitu loh! Biar jadi guru yang siap lahir bathin untuk jamuan dengan para Presiden dunia kali ya...
Jangan ke Dokter Lagi!
| Rating: | ★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Health, Mind & Body |
| Author: | Dr.Tauhid Nur Azhar & Bambang Trim |
PS: Sorry ya Mas dadang kemarin sore Nurul baru anter si dede ke dokter lagi, gejala thypus katanya. Mudah-mudahan itu yang terakhir ya he...he...
Kata Popeye si Pelaut…
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Memasuki teras rumahku, langkahku sudah mulai terseret-seret. Seluruh badanku terasa remuk redam setelah dua hari ini kehujanan terus. Untunglah sepeda motorku sudah sampai diteras sebelum aku benar-benar ambruk.
Si Mba Neng, khadimatku sibuk menyiapkan teh hangat. Si Mba beberapa kali menawarkan untuk periksa ke dokter saja atau setidaknya dipijat Emak Odah, tukang pijat paten sebelah rumahku. Wah bukannya alergi dokter or anti pijat, tapi rasanya aku tidak separah itu hanya kurang tidur dan kurang makan and kurang sehat aja.
Akhirnya selepas Isya khadimatku pamit pulang. Seperti biasa tinggallah aku dan putra-putriku.
Menjelang tidur Fathan dan Fathiyya kegirangan karena dapat kesempatan memijat punggung dan kakiku. Putriku yang minggu kemarin genap berusia 4 tahun itu paling semangat melakukannya. Lumayan pijatan lembut tanpa gaya dan tenaga itu melerai lelahku meskipun rasanya ga ngefek banget untuk pegal-pegalnya. Tapi asyik dimanja buah hati. Apalagi pakai acara gelitik menggelitik. Waah ga ada duanya deh happynya. Meskipun pernyataan putriku sempat membuat aku tercengang-cengang.
“Dede tahu ummi sakit apa”
“ Sakit apa coba? Emang dede tahu ya?” tanyaku.
“ Ummi sakit karena ditinggal abi kaaan…Abi kan lagi berjuang ummi, lagi kerja” suara mungil itu mengalir begitu saja.
“ Ngga aaah, ummi cuman cape kok. Dede Kata siapa?” tanyaku, hati-hati. Penasaran dengan kedewasaannya yang tiba-tiba itu.
“ Ehmmmm…kata…kata popeye si pelaut tuuuuut….tuuut….” fathiyya menjawab sambil bersenandung jingle kartun popeye. Yeeee…baru aja mendadak dewasa sudah keluar deeh aslinya…bayi banget!